oleh

Pergerakan Tanah di Ciherang Nyalindung Sukabumi Terus Terjadi, Awas ‘Bom Waktu’!

sukabumiekspres.net || NYALINDUNG – Rekahan tanah akibat pergeseran di Kampung Ciherang RT 01 dan 02, Desa Cijangkar, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, bertambah. Data yang di-update BPBD setempat pada Minggu (31/1), kondisi tanahnya mengalami ambles sekitar 5 sentimeter.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sukabumi, Eka Widiaman, mengatakan berdasarkan laporan tim di lapangan, hingga Senin (1/2) pergerakan terus bertambah retakannya dan semakin ambles. Bahkan terdapat cukup banyak retakan-retakan baru.

“Terdapat retakan baru di areal persawahan. Airnya juga sudah mulai surut. Sekitran 5 sentimeter tambah amblasannya,” kata Eka kepada wartawan, kemarin (2/2).

Pada Sabtu (30/1) malam sempat terdengar suara gemuruh di kampung tersebut. Warga pun sempat berlarian karena dikhawatirkan terjadi hal-hal tak diinginkan. Namun Eka memastikan tidak terjadi tanah longsor dari suara gemuruh tersebut.

“Suara gemuruh pada Sabtu malam sudah dicek. Tidak terjadi longsor besar. Petugas kami di lapangan sudah berkeliling untuk mengecek situasi dan kondisi,” ucap Eka.

Di kampung tersebut terdapat sebanyak 38 rumah atau sebanyak 42 kepala keluarga. Hasil pendataan di lapangan terdapat sebanyak 127 jiwa terdiri dari laki-laki sebanyak 64 jiwa dan perempuan sebanyak 63 jiwa.

“Warga sudah diungsikan ke lokasi yang dijadikan tempat pengungsian. Ada yang diungsikan ke SDN Ciherang, ada juga yang di luar SDN Ciherang,” jelas Eka.

Jumlah warga Kampung Ciherang RT 01/02 yang diungsikan sebanyak 19 kepala keluarga atau 56 jiwa. Warga yang mengungsi di SDN Ciherang sebanyak 9 jiwa atau 27 jiwa terdiri dari 12 laki-laki dan 15 perempuan. Sedangkan yang mengungsi di luar SDN Ciherang sebanyak 10 kepala keluarga atau 29 jiwa terdiri dari 16 laki-laki dan 13 perempuan.

Sedangkan warga Kampung Ciherang RT 02/02 yang diungsikan sebanyak 21 kepala keluarga atau 65 jiwa. Warga yang mengungsi di SDN Ciherang sebanyak 9 kepala keluarga atau 34 jiwa terdiri dari 19 laki-laki dan 15 perempuan. Sementara yang mengungsi di luar SDN Ciherang sebanyak 21 kepala keluarga atau sebanyak 31 jiwa terdiri dari 13 laki-laki dan 18 perempuan. “Kami terus memantau perkembangan di lapangan,” pungkas Eka. (ist)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *