Tren #KaburAjaDulu Makin Buat Indonesia Emas 2045 Mustahil Terwujud, Ternyata Ini Penyebabnya

Tren KaburAjaDulu
Tren #KaburAjaDulu di Media Sosial
0 Komentar

SUKABUMI EKSPRES – Setiap hari, banyak anak muda Indonesia yang memilih untuk pergi ke luar negeri, bukan untuk berlibur, tetapi untuk mencari kehidupan yang lebih baik, baik melalui pekerjaan, pendidikan, maupun bisnis. Tren migrasi ini semakin meningkat. Pertanyaannya, apakah benar Indonesia sudah tidak bisa memberikan masa depan yang layak bagi generasi mudanya?

Banyak yang berpendapat bahwa masalah ini sudah klasik, seperti gaji yang rendah, biaya hidup yang semakin tinggi, sulitnya mendapatkan pekerjaan, sistem yang korup, serta maraknya nepotisme.

Namun, jika semua orang pintar dan berbakat memilih untuk “kabur,” siapa yang akan membangun Indonesia menjadi lebih baik? Atau mungkin, pindah ke luar negeri justru merupakan langkah paling realistis untuk mencapai kesuksesan?

Baca Juga:3 Pola Pikir Keliru untuk Menutupi Kesalahan, Malah Akan Menghambat KemajuanIntip Spesifikasi Lenovo Legion Go S Sebagai PC Gaming Genggam Terhype Buat Para Gamers

Mungkin Anda sudah sering melihat tagar #KaburAjaDulu di media sosial, terutama di platform seperti X (Twitter). Awalnya, tagar ini digunakan untuk berbagi informasi mengenai peluang kerja atau pendidikan di luar negeri.

Namun, seiring waktu, tagar ini berkembang menjadi bentuk respons masyarakat Indonesia, khususnya anak muda, yang merasa frustrasi terhadap kondisi di dalam negeri.

Alasan Banyak WNI Ingin Kabur dari Indonesia

Alasan di balik tren ini beragam, mulai dari minimnya lapangan kerja, kondisi ekonomi yang tidak stabil, ketidakpastian politik, hingga rendahnya kualitas hidup. Kata kabur dalam konteks ini menggambarkan keinginan untuk meninggalkan situasi yang dianggap tidak menguntungkan dan berpindah ke tempat yang menawarkan kehidupan yang lebih baik.

Berdasarkan data, pada tahun 2020 terdapat lebih dari 4 juta migran internasional asal Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah migran terbanyak kedua di dunia.

Namun, perlu dicatat bahwa data ini merujuk pada pekerja migran Indonesia (PMI), yang mayoritas bekerja sebagai asisten rumah tangga, pengasuh, buruh pabrik, serta pekerja di sektor perkebunan.

Dari tahun ke tahun, tren ini cenderung meningkat secara signifikan, dan di sinilah masalahnya mulai terlihat. Jika ke depannya orang Indonesia yang bekerja di luar negeri bukan hanya sebatas asisten rumah tangga, tetapi juga individu dengan pendidikan tinggi yang mencari peluang besar di perusahaan internasional atau menjalankan bisnis di luar negeri, maka fenomena brain drain bisa menjadi ancaman serius.

0 Komentar