CIBADAK– Hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Sukabumi sejak Senin (12/1/2026) dini hari mengakibatkan bencana pergerakan tanah di Kampung Cicadas, Desa Neglasari, Kecamatan Cibadak. Akibat peristiwa ini, satu rumah warga mengalami kerusakan dan akses jalan utama menuju sekolah terancam putus.
Informasi yang dihimpun dari Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Cibadak menyebutkan, bencana mulai terjadi pada Senin siang sekitar pukul 14.00 WIB. Retakan tanah muncul setelah wilayah tersebut diguyur hujan tanpa henti.
”Kami menerima laporan dari Ketua RW setempat bahwa telah terjadi pergerakan tanah yang cukup signifikan di wilayah RW 08. Lokasinya tepat di jalur vital aktivitas warga,” ujar Anggota P2BK Cibadak, Mawaldi, saat melakukan asesmen di lokasi, Selasa (13/1/2026).
Baca Juga:Lumpuh 48 Jam, Akses Bagbagan–Kiaradua Kini Bisa Dilalui KembaliMendukbangga RI Soroti Praktik Pernikahan Usia Dini di Sukabumi
Berdasarkan hasil pengecekan di lapangan, dimensi retakan tanah cukup mengkhawatirkan. Panjang retakan mencapai kurang lebih 6 meter dengan lebar rekahan hingga 50 centimeter dan kedalaman amblesan mencapai 2 meter.
”Dampaknya cukup serius. Selain akses jalan lingkungan yang hampir putus, ada satu rumah warga atas nama Agus Ruswandi yang mengalami retak-retak. Rumah tersebut dihuni oleh satu KK dengan total enam jiwa,” tambah Mawaldi.
Tak hanya merusak bangunan, pergerakan tanah ini juga mengancam keselamatan para pelajar, mengingat jalur tersebut merupakan akses utama menuju sekolah. Sebanyak 15 Kepala Keluarga (KK) di area sekitar dilaporkan ikut terdampak dan merasa was-was jika pergerakan tanah terus meluas.
Hingga Selasa siang, unsur Forkopimcam Cibadak yang terdiri dari Camat, P2BK, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Tagana, hingga Satpol PP sudah berada di lokasi untuk melakukan penanganan darurat. Warga bersama pengurus RT/RW juga berencana melakukan gotong royong untuk membersihkan material sisa pergerakan tanah.
Pihak BPBD melalui P2BK Cibadak telah mengajukan kebutuhan mendesak untuk penanganan awal, di antaranya terpal untuk menutupi retakan agar tidak kemasukan air, kawat brojong, karung, serta pipa paralon untuk membenahi saluran air yang terputus.
”Kami menghimbau warga untuk tetap waspada, terutama saat terjadi hujan deras dengan durasi lama. Jika terlihat retakan baru, segera melapor atau mengungsi ke tempat yang lebih aman,” pungkasnya. (SS)
