oleh

Pemancing Ikan Sidat Terjebak Banjir Bandang

PALABUHANRATU – Odih (60), pemancing ikan sidat asal Kampung Gombong, Desa Cimaja, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, bertahan selama kurang lebih empat jam di atas batu untuk bisa selamat dari terjangan luapan Sungai Cimaja beberapa waktu lalu. Odih merupakan satu dari empat pemancing ikan sidat yang terjebak saat terjadi luapan sungai Cimaja.
Pada kejadian itu, tiga orang, termasuk Odih, berhasil selamat. Tetapi satu orang bernama Mardi (58) hilang. Hingga kini keberadaannya belum ditemukan.

“Saya bertahan sampai empat jam dengan memegang batu hingga air surut. Meski surut, air masih tinggi. Tapi saya berhasil menyeberang ke tepi,” ungkap Odih kepada wartawan, kemarin (22/5).

Peristiwa berawal saat ia bersama korban yang hilang sedang memancing di lokasi yang sama. Sementara posisi dua pemancing lainnya berada di lokasi berbeda dan berjarak agak jauh dari arah hulu sungai.

“Sebelum kejadian korban saat itu sudah mendapatkan sidat ukuran cukup besar dan tengah menggulung alat pancing. Sidatnya juga sudah dimasukkan ke dalam karung,” terangnya.
Namun, tiba-tiba salah seorang pemancing dari arah hulu berteriak memberitahukan bahwa air sungai mulai meluap. Mendengar informasi itu, Odih dan korban yang hilang langsung menggulung alat pancing di atas batu besar untuk segera berlari ke tepi sungai.

Belum juga selesai menggulung alat pancing, banjir sudah tiba di lokasi mereka berada. Sementara korban bukannya berlari ke tepi sungai tapi malah naik ke batu yang sedang ia tempati.

“Saya bertahan di atas batu. Tapi tiba-tiba korban ikut ke atas batu dan memegang baju saya. Saya sempat bilang jangan pegang baju saya tapi perkuat pertahanan kaki seperti kuda. Korban pun melepaskan pegangannya,” beber Odih.

Setelah itu, Odih berusaha loncat ke batu lain yang berada tidak jauh dari batu besar sambil memegang batu berbentuk datar dengan erat. Tak berselang lama, ia menyaksikan korban masih di atas batu besar tadi disapu luapan air hingga terjatuh. “Sambil berpegangan saya berusaha menolong korban dan berhasil meraih bajunya.

Tapi karena air cukup kencang, saya tidak kuat memegang korban terlalu lama. Akhirnya korban terlepas dari pegangan saya,” tuturnya.

Odih pun makin memperkuat pegangan sambil berdoa berulang kali. Ia berdoa agar banjir segera surut sambil membaca syahadat, takbir, dan doa lainnya.

“Saya dihantam arus sungai terus menerus dan beberapa kali berpindah posisi pegagan karena air banyak masuk ke mulut dan telinga. Saya memohon kepada Allah sambil menangis,” ucapnya.

Banjir yang menghantamnya dan korban mirip tsunami. Tidak terlihat dan tiba-tiba datang dengan arus sangat kencang. Padahal kondisi cuaca di lokasi kejadian saat itu tidak sedang turun hujan. “Tapi hanya terdengar suara kilat.

Kondisinya saat itu gelap dan tidak terlihat. Ditambah banyak batu besar yang menghalangi penglihatan,” pungkasnya. (mg1)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.