Lirik Lagu 'Bayar Bayar Bayar' Bikin Heboh, Apa Sih yang Bikin Kontroversial?

Foto: Instagram Sukatani.band
Band Sukatani asal purbalingga.
0 Komentar

SUKABUMI EKSPRES – Lagu “Bayar Bayar Bayar” dari band punk asal Purbalingga, Sukatani, mendadak viral dan menjadi perbincangan hangat di media sosial. Lagu ini menuai reaksi beragam, mulai dari dukungan hingga kritik tajam. Banyak yang menganggap lagu ini sebagai bentuk kritik sosial yang berani, sementara sebagian lainnya merasa liriknya terlalu frontal dan menyudutkan pihak tertentu.

Jadi, apa sebenarnya yang membuat lagu ini begitu kontroversial? Yuk, kita bahas lebih dalam!

Sukatani adalah band yang baru terbentuk pada Oktober 2022. Grup ini digawangi oleh dua personel utama, yaitu Novi Citra Indriyati sebagai vokalis dan Muhammad Syifa Al-Lufti sebagai gitaris. Mereka mengusung genre post-punk dengan lirik-lirik yang sarat akan kritik sosial. Dari awal kemunculannya, Sukatani memang dikenal sebagai band yang tidak takut untuk menyuarakan isu-isu sensitif melalui musik mereka.

Baca Juga:Mengenal Sukatani: Band Punk Viral yang Bikin Heboh Karena Lagu ‘Bayar Bayar Bayar’Wave To Earth Gelar Konser di Jakarta! Berikut List Lagu Terbaiknya

Lagu “Bayar Bayar Bayar” sendiri dirilis sebagai bagian dari kritik terhadap praktik korupsi yang masih sering terjadi di berbagai sektor, khususnya di kalangan oknum kepolisian. Lirik lagu ini menggambarkan berbagai situasi di mana masyarakat harus membayar sejumlah uang untuk mendapatkan layanan atau menghindari sanksi tertentu.

Isi Lirik yang Mengundang Kontroversi

Salah satu faktor utama yang membuat lagu ini kontroversial adalah liriknya yang secara eksplisit menyebutkan situasi-situasi yang dianggap sebagai bentuk pungutan liar:

Mau bikin SIM bayar polisi

Ketilang di jalan bayar polisi

Touring motor gede bayar polisi

Angkot mau ngetem bayar polisi

Tidak hanya itu, beberapa lirik lainnya juga semakin memperjelas kritik yang ingin disampaikan oleh Sukatani:

Mau bikin gigs bayar polisi

Lapor barang hilang bayar polisi

Masuk ke penjara bayar polisi

Keluar penjara bayar polisi

Bait-bait tersebut seolah menggambarkan bagaimana masyarakat kerap merasa harus mengeluarkan uang ekstra saat berurusan dengan pihak kepolisian, baik dalam hal administrasi maupun situasi lain yang seharusnya tidak memerlukan biaya tambahan. Lagu ini kemudian diakhiri dengan pengulangan kalimat:

Aduh aduh ku tak punya uang

Untuk bisa bayar polisi

Lirik yang lugas dan tanpa basa-basi ini kemudian menimbulkan polemik. Beberapa pihak menganggapnya sebagai bentuk kritik yang sah terhadap oknum tertentu, sementara yang lain melihatnya sebagai generalisasi yang menuduh seluruh institusi kepolisian.

0 Komentar