“Kerugian materi ratusan juta, tapi yang paling berat itu kerugian batin.
Ada jemaah yang sudah jual sawah, jual tanah demi berangkat umrah. Kami merasa hancur kalau tidak memberangkatkan mereka,” katanya.
Menurutnya, keputusan menalangi biaya keberangkatan bukan hal mudah, tetapi dilakukan demi menjaga amanah. “Karena moral kami tidak bisa membiarkan mereka gagal berangkat. Kami tidak mau lari dari tanggung jawab,” tegasnya.
Baca Juga:Anggota DPRD Kota Sukabumi Fasilitasi Bazzar TakjilPemkot Sukabumi Upaya Tingkatkan Kapasitas Posyandu
Di tempat yang sama Julpat memberi tanggapan: “Kami Merasa Ditipu dan Dipermalukan”
Julpat, menantu Haji Ucup yang juga terlibat dalam perekrutan jemaah sekaligus mengaku sebagai korban, menyebut dugaan penipuan ini bukan hanya merugikan secara finansial tetapi juga mencoreng nama baik mereka di masyarakat. “Awalnya kami diminta mencari jemaah. Dijanjikan bonus dan bantuan perizinan travel. Tapi kenyataannya seperti ini. Kami merasa ditipu dan dipermalukan di depan masyarakat,” ujarnya.
Ia mengaku kondisi mental keluarga saat itu sangat terpukul. “Empat hari kami di bandara, tidak tahu harus bagaimana. Jujur, kami sempat tidak ingin pulang karena malu dan merasa gagal. Itu beban yang sangat berat,” katanya.
Julpat berharap aparat penegak hukum menuntaskan kasus ini agar tidak ada korban baru. “Kami mohon ini diusut tuntas. Jangan sampai ada lagi masyarakat kecil yang niat ibadah malah jadi korban dugaan penipuan,” tandasnya. (Mg3)
