Kuliah Umum Tandai Transformasi STAI Kharisma Sukabumi Menuju Institut Kharisma Nusantara

Istimewa
Istimewa
0 Komentar

SUKABUMI — Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Kharisma Sukabumi menggelar kuliah umum bertajuk “Transformasi Kelembagaan Menuju Episentrum Akademik Islam yang Unggul dan Kompetitif”, Kamis, 24 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari momentum transformasi kelembagaan STAI Kharisma Sukabumi menuju Institut Kharisma Nusantara (IKN).

Kuliah umum ini tidak sekadar menjadi forum akademik, tetapi juga menjadi ruang refleksi sekaligus peneguhan arah baru institusi dalam menghadapi perubahan lingkungan pendidikan tinggi yang semakin dinamis. Transformasi dari sekolah tinggi menjadi institut dipandang sebagai momentum untuk memperluas mandat akademik, memperkuat tata kelola, serta meningkatkan kontribusi perguruan tinggi Islam terhadap masyarakat dan pembangunan nasional.

Acara dibuka oleh Rektor Institut Kharisma Nusantara, Dr. Ade Nurpriatna, S.Ag., M.Ud. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa perubahan status kelembagaan harus diikuti dengan perubahan cara pandang, budaya akademik, dan kualitas tata kelola.Menurutnya, alih status bukan sekadar perubahan nomenklatur kelembagaan. Lebih jauh, transformasi tersebut harus menjadi titik tolak untuk membangun institusi pendidikan tinggi yang memiliki daya saing, reputasi akademik, serta kebermanfaatan yang lebih luas.

Baca Juga:Semangat Hari Kesaktian Pancasila, PLN Ajak Masyarakat Bayar Listrik Tepat Waktu melalui PLN MobileWalkot Sukabumi Bakal Kembali Rombak Posisi Pejabat

“Transformasi kelembagaan harus kita maknai sebagai transformasi budaya akademik. Ketika kita berubah menjadi institut, maka tantangannya bukan hanya bertambahnya ruang akademik, tetapi bagaimana seluruh sivitas akademika mampu membangun tradisi keilmuan yang kuat, inovatif, dan memiliki daya saing,” ujar Dr. Ade.

Kuliah umum menghadirkan dua narasumber yang memiliki pengalaman dalam bidang kebijakan keagamaan dan pemerintahan. Narasumber pertama adalah Dr. H. Gungun Gumilar, M.A., Ph.D., Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia, sedangkan narasumber kedua adalah Dr. Kun Nurachadijat, S.E., M.B.A., Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden Republik Indonesia.

Kehadiran kedua narasumber memberikan perspektif yang lebih luas mengenai posisi perguruan tinggi Islam dalam menghadapi perubahan sosial, perkembangan teknologi, kebutuhan dunia kerja, serta dinamika kebijakan nasional.

Dalam paparannya, Dr. H. Gungun Gumilar menyoroti pentingnya membangun perguruan tinggi Islam yang tidak berhenti pada penguatan aspek kelembagaan, tetapi juga mampu menjadi pusat produksi dan diseminasi ilmu pengetahuan.

0 Komentar