“Perguruan tinggi Islam ke depan harus mampu menjadi episentrum akademik. Artinya, kampus tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya proses pembelajaran, tetapi juga menjadi pusat lahirnya gagasan, penelitian, inovasi, dan solusi bagi persoalan masyarakat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, transformasi kelembagaan perlu diikuti dengan penguatan kualitas sumber daya manusia, terutama dosen dan tenaga kependidikan. Menurutnya, kualitas perguruan tinggi pada akhirnya sangat ditentukan oleh kualitas manusia yang menggerakkan institusi tersebut.
Sementara itu, Dr. Kun Nurachadijat memberikan perspektif mengenai pentingnya kemampuan perguruan tinggi membaca perubahan dan membangun jejaring strategis. Menurutnya, perguruan tinggi tidak dapat lagi berjalan sendiri apabila ingin memiliki daya saing yang kuat.
Baca Juga:Semangat Hari Kesaktian Pancasila, PLN Ajak Masyarakat Bayar Listrik Tepat Waktu melalui PLN MobileWalkot Sukabumi Bakal Kembali Rombak Posisi Pejabat
“Perguruan tinggi harus mampu membangun ekosistem. Kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, masyarakat, alumni, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam membangun institusi yang kompetitif,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya mengembangkan keunggulan yang menjadi identitas institusi. Dalam konteks Institut Kharisma Nusantara, transformasi tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan perluasan program akademik, tetapi juga melahirkan kekhasan dan keunggulan yang dapat menjadi pembeda di tengah semakin kompetitifnya pendidikan tinggi.
Kuliah umum berlangsung dalam suasana akademik yang interaktif. Sivitas akademika dan peserta mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi mengenai tantangan perguruan tinggi Islam, pengembangan sumber daya manusia, tata kelola kelembagaan, penguatan riset, serta strategi membangun jejaring dan reputasi akademik.
Momentum ini sekaligus menegaskan bahwa proses perubahan STAI Kharisma Sukabumi menuju Institut Kharisma Nusantara bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari fase baru yang menuntut kesiapan lebih besar.
Transformasi tersebut membawa harapan agar IKN mampu berkembang menjadi perguruan tinggi Islam yang tidak hanya unggul secara kelembagaan, tetapi juga memiliki kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, dan pemberdayaan masyarakat.
Dengan mengusung semangat menjadi “episentrum akademik Islam yang unggul dan kompetitif”, Institut Kharisma Nusantara diharapkan mampu memadukan kekuatan tradisi keilmuan Islam dengan tuntutan akademik modern. Dengan demikian, perubahan status kelembagaan tidak berhenti pada perubahan nama, tetapi benar-benar menjadi transformasi menuju institusi pendidikan tinggi yang lebih maju, adaptif, kolaboratif, dan berdaya saing.
