PALABUHANRATU – Ratusan warga yang didominasi kalangan Emak-emak mendatangi Kantor Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sukabumi, pada Senin (20/7/2026). Kedatangan mereka ke salah satu Perangkat Daerah yang berada di lingkungan Pemkab Sukabumi tersebut bertujuan untuk menagih kepastian, bukan sekadar janji.
Pasalnya kesabaran warga Desa Cikadu, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, tampaknya telah mencapai batas. Setelah 17 tahun saluran Daerah Irigasi (D.I) Citarik (Somang Cikadu) tak kunjung berfungsi dengan normal,
Aksi yang didominasi kaum ibu itu menjadi simbol betapa panjangnya penantian masyarakat terhadap pemulihan irigasi yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan petani.
Baca Juga:Budi Azhar : Tradisi Syukuran Hari Nelayan di Sukabumi tak Sekedar BudayaPangdam III Siliwangi dan Bupati Resmikan Jembatan Guci di Cikembar
Mereka datang menggunakan mobil odong-odong sambil membawa berbagai spanduk bernada sindiran, menuntut pemerintah segera merealisasikan pembangunan saluran irigasi yang terbengkalai sejak belasan tahun lalu.
Bagi warga, persoalan ini bukan lagi sekadar infrastruktur yang rusak. Saluran irigasi yang mati telah mengubah wajah pertanian Cikadu. Sawah produktif berubah menjadi lahan tadah hujan, sebagian bahkan beralih menjadi kebun karena tidak lagi memiliki pasokan air.
Perwakilan warga, Neni, mengatakan masyarakat sudah terlalu lama menunggu tanpa kepastian.
“Kami ingin irigasi Somang Cikadu mengalir lagi seperti dulu. Sudah 17 tahun kami menunggu. Sampai saya berangkat kerja ke Arab lalu pulang lagi, kondisinya tetap seperti ini,” ujarnya.
Menurutnya, dampak kerusakan irigasi tidak hanya dirasakan sektor pertanian, tetapi juga kebutuhan sehari-hari masyarakat. Air yang dahulu mengalir kini hilang, sehingga aktivitas mandi, mencuci hingga kebutuhan sarana ibadah ikut terdampak. (mg3)
