Modus yang digunakan dalam aplikasi ini adalah skema investasi dengan iming-iming keuntungan yang tidak masuk akal. Tersedia berbagai pilihan seperti “Dana Bulanan”, “Keuangan Harian”, “Enkripsi”, serta “Kegiatan” lainnya. Jika kita perhatikan, perhitungan keuntungan yang ditawarkan sangat tidak realistis.
Sebagai contoh, dengan modal awal sebesar Rp70.000, penghasilan harian yang dijanjikan adalah Rp21.000. Ini berarti dalam waktu hanya empat hari, modal sudah kembali. Lebih jauh lagi, total keuntungan yang diklaim setelah 31 hari mencapai Rp651.000, yang jelas tidak masuk akal. Ada juga skema lain, seperti investasi Rp370.000 yang dalam 31 hari diklaim bisa menghasilkan Rp3.500.000.
Semakin besar nilai deposit yang kita setorkan, semakin besar pula pendapatan yang dijanjikan. Namun, ini adalah skema penipuan investasi bodong. Hanya orang yang kurang memahami skema ini yang akan rela menginvestasikan uang dalam jumlah besar, bahkan hingga Rp577 juta, di dalam aplikasi semacam ini.
Baca Juga:4 Sisi Gelap Ormas di Indonesia Sampai Melemahkan Perekonomian NegaraAplikasi MXTREND Segera Scam! Penipuan yang Akan Bernasib Sama Seperti DBC dan Kantar
Selain itu, aplikasi ini juga menerapkan sistem “reward”, di mana pengguna yang berhasil mengundang orang lain akan mendapatkan komisi hingga tiga level. Rinciannya adalah sebagai berikut:
· Level pertama: 34%
· Level kedua: 4%
· Level ketiga: 1%
Jadi, tidak heran jika banyak orang berusaha mengajak orang lain untuk bergabung, karena mereka mendapatkan komisi dari setiap anggota baru yang direkrut.
Aplikasi ini kemungkinan besar dibuat oleh orang Indonesia. Alasannya adalah karena nama-nama perusahaan yang dicatut dalam skema ini merupakan perusahaan asal Indonesia. Sebelumnya, sudah ada aplikasi serupa yang mencatut nama Pertamina, kemudian Astra, dan perusahaan-perusahaan Indonesia lainnya. Oleh karena itu, besar kemungkinan bahwa pembuat situs ini adalah orang Indonesia.
Jika kita melihat di TikTok, akun yang terkait dengan aplikasi ini memiliki jumlah pengikut yang sangat banyak. Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa aplikasi ini dibuat oleh pihak dari Indonesia.
Selain itu, terdapat berbagai bukti pencairan dana yang ditampilkan sebagai strategi untuk menarik korban. Namun, perlu diingat bahwa hanya pengguna awal yang berkesempatan mendapatkan keuntungan, sementara pengguna lain berisiko mengalami kerugian.
