SUKABUMI,SUKABUMI.JABAREKSPRES.COM – Para pedagang daging sapi di pasar tradisional di Kota Sukabumi mogok berjualan, kemarin (7/1). Aksi ini dilakukan secara massal di seluruh Indonesia menyusul rencana kenaikan harga daging sapi yang dikhawatirkan berdampak terhadap daya beli masyarakat serta stabilitas pasokan pangan di daerah.
Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki mengimbau para pedagang daging sapi agar tidak melakukan mogok dagang dan memilih jalur komunikasi dengan pemerintah daerah. Menurutnya, setiap persoalan yang dihadapi pedagang dapat dibahas dan dicarikan solusi bersama tanpa harus menghentikan aktivitas jual beli yang berpotensi merugikan masyarakat luas. “Kita mengimbau kepada para pengusaha daging di Kota Sukabumi agar jangan mogok dagang. Nanti kita bisa komunikasikan keluhannya seperti apa,” ujar Ayep, kemarin (7/1).
Pemerintah Kota Sukabumi berkomitmen menjaga kekompakan antara pemerintah dan pelaku usaha, khususnya pedagang daging sapi. Salah satu langkah yang ditawarkan adalah mencari sumber sapi potong dengan harga lebih murah sehingga tekanan kenaikan harga dapat diminimalkan. “Khusus untuk Kota Sukabumi, mari kita bersama-sama. Kita nanti bisa mencari sapi potong yang harganya lebih murah, asal kita kompak,” katanya.
Baca Juga:Pemkot Sukabumi Dongkrak PAD, Bentuk Tim 10RS Bunut Resmi Buka Layanan Kemoterapi
Ayep Zaki juga menekankan pentingnya kejujuran dan amanah dari para pedagang membangun sistem distribusi dan penjualan daging sapi yang sehat. Dia menyebut, pemerintah daerah siap memfasilitasi pengadaan sapi potong, namun harus dibarengi dengan komitmen pedagang untuk menjalankan usaha secara tertib dan transparan.
“Yang penting satu saja, siap tidak para pedagang daging ini jujur dan amanah. Berapa kebutuhan daging di Kota Sukabumi, nanti kita bicarakan bersama. Kita cari penyedia sapi potong yang paling murah,” tegasnya.
Menurut Ayep, Kota Sukabumi memiliki Rumah Potong Hewan (RPH) yang sudah memenuhi standar, sehingga proses pemotongan sapi dapat dilakukan secara higienis dan terkontrol. Bahkan, pemerintah daerah membuka peluang untuk mendatangkan langsung sapi potong dari penyedia dengan harga paling kompetitif di Indonesia untuk menekan biaya produksi.
“Kita punya RPH yang standar. Kita juga bisa membeli sapi dari penyedia dengan harga paling murah di Indonesia. Kita akan mendatangkan sendiri sapinya, tapi siap tidak pedagangnya jujur dan amanah. Jangan sampai sudah ambil sapi, tapi pembayarannya tidak beres,” ujarnya.
