SUKABUMI – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendominasi kejadian bencana di Kabupaten Sukabumi. Jumlah kejadiannya relatif signifikan, terutama selama musim kemarau panjang ekstrem.
Manager Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, menyebutkan selama September setidaknya terjadi 92 kali bencana. Dari jumlah tersebut, paling banyak karhutla yang merupakan dampak kemarau panjang ekstrem.
“Hasil rekapitulasi laporan, terjadi 76 kali karhutla selama kemarau. Dampak kemarau yang lain yaitu kekeringan sebanyak dua kasus,” kata Daeng, kemarin (6/10).
Baca Juga:Warga Urunan Perbaiki Jalan, Mestinya Tanggung Jawab Pemerintah DaerahMUI Komitmen untuk Terus Bermitra dengan Pemkab Sukabumi
Sementara bencana lainnya yaitu tanah longsor 1 kejadian, angin kencang 12 kejadian, dan gempa bumi 1 kejadian. Terdapat 33 kecamatan yang turut terdampak bencana di wilayah yang digadang-gadang terluas kedua se-Jawa dan Bali itu.
Wilayah yang terdampak meliputi Kecamatan Bantargadung, Ciambar, Cibadak, Cicurug, Cidadap, Cidahu, Cidolog, Ciemas, Cikidang, Cimanggu, Ciracap, Cireunghas, Cisaat, Gegerbjtung, Gunungguruh, Kabandungan, Kalapanunggal, Kalibunder, Kebonpedes, Lengkong, Nagrak, Nyalindung, Pabuaran, Palabuhanratu, Parakansalak, Parungkuda, Purabaya, Sagaranten, Simpenan, Sukalarang, Sukaraja, Waluran, dan Warungkiara.Daeng menuturkan, berbagai bencana berdampak terhadap 491 kepala keluarga atau 558 jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3 kepala keluarga atau 8 jiwa mengungsi. “Ada satu orang yang mengalami luka,” terang Daeng.
Sebanyak 24 rumah rusak akibat bencana. Rinciannya, 10 rumah rusak ringan, 6 rusak sedang, dan 8 rusak berat. “Terdapat 49 rumah yang terancam,” ujarnya.Sementara kerusakan fasilitas umum dan fasilitas sosial yang terdampak antara lain sawah dan lahan seluas 108,54 hektare, 1 tempat ibadah, dan 1 sarana pendidikan. (mg5)
