LSL Penyumbang Kasus HVI/AIDS *Semester Pertama Tahun Ini Terdapat 70 Kasus Baru

JL SURYAKENCANA – Hubungan seks lelaki sesama jenis alau lelaki suka lelaki (LSL) menjadi penyumbang terbesar kasus baru HIV/AIDS di Kota Sukabumi. Secara umum, penambahan jumlah kasus baru HIV/AIDS di Kota Sukabumi trennya berfluktuasi.

BACA JUGA : pasanggiri Moka Tuntaskan Seleksi Offline

“Salah satu penyumbang kasus HIV/AIDS yakni LSL,” kata Sekretaris Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Kota Sukabumi, Fifi Kusumajaya, kepada wartawan, belum lama ini.

Melihat grafik, lanjut Fifi, kasus HIV/AIDS di Kota Sukabumi berubah-ubah. Pada 2019, terdata sebanyak 169 kasus. Kemudian setahun berikutnya atau pada 2020, jumlahnya cenderung turun menjadi 157 kasus. Kemudian pada 2021 jumlahnya kembali meningkat menjadi 167 kasus.

“Tahun ini selama Januari-Mei 2022 ada 70 temuan kasus,” terang Fifi.

Dari jumlah itu, katanya, sebanyak 29 orang merupakan warga Kota Sukabumi. Sisanya terdata warga luar daerah yang sedang menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan di Kota Sukabumi.

“Selain LSL, HIV/AIDS ditularkan juga kalangan lelaki dan perempuan yang gonta-ganti pasangan, kemudian ibu hamil atau menyusui yang mengidap HIV/AIDS, termasuk pengguna jarum suntik,” tuturnya.

KPA mengingatkan masyarakat yang memiliki risiko tinggi HIV/AIDS agar mendeteksi dini dengan memeriksakan diri. Di sejumlah fasilitas kesehatan pun sudah tersedia layanannya.

Di Sukabumi, rumah sakit yang menjadi rujukan pasien HIV/AIDS di antaranya RS Islam Assyifa Kota Sukabumi, RS Almulk Kota Sukabumi, dan RSUD Sekarwangi Cibadak Kabupaten Sukabumi.

“Tapi memang masih terbatas. Untuk obat pengidap HIV/AIDS masih tersedia, namun memang harganya masih cukup mahal,” ucapnya.

Upaya penanganan dan penanggulangan HIV/AIDS terus digaungkan KPA Kota Sukabumi. Langkah itu dilakukan untuk mengejar target yang ditetapkan pemerintah yakni nol kasus penularan, nol kasus meninggal dunia, dan nol stigma dan diskriminasi terhadap pengidap HIV/AIDS.

“Selama lebih dua tahun upaya penanganan dan penanggulangan sempat stagnan karena pemerintah fokus terhadap penanganan covid-19. Tapi kami optimistis dengan kerja sama lintas sektoral target tersebut bisa tercapai,” ungkapnya.

Perlu peran serta dan kerja sama dengan semua elemen. Semua instansi dan stakeholder agar bisa membantu dalam penanganan dan penanggulangan HIV/AIDS.

“Apabila dilakukan bersama-sama, tidak akan terlalu berat. Anggaran juga tidak akan terlalu besar. Selama pandemi covid-19 kami melakukan kegiatan sebatas via daring. Namun tak menghalangi niat untuk membantu dan menangani terkait masalah HIV/AIDS,” pungkasnya. (mg2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.