Mengungkap Kualitas Lulusan S1 di Indonesia yang Tertinggal

Lulusan S1 di Indonesia
Ilustrasi: Unsplash/Poodar Chu
0 Komentar

Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa proses belajar yang dipadatkan terkadang mengorbankan kualitas pendidikan. Tidak jarang, kampus-kampus yang menawarkan program percepatan justru merancang kurikulum yang dangkal. Tujuannya satu: memudahkan mahasiswa lulus tepat waktu dengan nilai tinggi agar reputasi kampus tetap berkilau.

Di satu sisi, mahasiswa senang karena bisa cepat lulus dan segera bekerja. Namun, di hari pertama masuk perusahaan, banyak yang justru terpukul karena pengetahuan dasar mereka masih minim. Kondisi ini melanggengkan istilah tukang cetak ijazah, di mana proses pendidikan lebih menekankan kuantitas kelulusan daripada kualitas lulusan.

Sebagai contoh, jurusan sains data mulai banyak ditawarkan di berbagai perguruan tinggi, tetapi fasilitas laboratoriumnya hanya berisi komputer jadul dengan perangkat lunak usang. Akibatnya, lulusan jurusan tersebut kebingungan saat diminta menjelaskan konsep machine learning, karena mayoritas mata kuliah lebih banyak diisi dengan ceramah daripada praktik. Mahasiswa pun sekadar menghafal definisi tanpa memahami cara mengimplementasikannya.

Baca Juga:Menyikapi Fenomena Ormas Ramai Minta THR Jelang LebaranBocoran Spesifikasi Poco F7 Ultra Usung Prosesor Snapdragon 8 Elite Terbaru, Ini Review Lengkapnya

HRD Menyortir Kandidat Berdasarkan Ijazah

Dalam proses perekrutan karyawan, HRD di banyak perusahaan di Indonesia sering kali dibanjiri ratusan lamaran. Untuk menyaringnya, mereka menggunakan jalan pintas, seperti menetapkan syarat minimal pendidikan S1 dengan IPK di atas 3,0 atau persyaratan akademik lainnya yang terkadang mengabaikan keterampilan nyata kandidat.

Misalnya, seorang HRD berkata kepada rekannya, “Dia lulusan Universitas X, pasti bagus,” tanpa sempat memverifikasi portofolio atau kemampuan sebenarnya. Cara ini memang memudahkan seleksi awal, tetapi juga menutup peluang bagi kandidat yang kompeten tetapi tidak memiliki gelar akademik yang mentereng.

Padahal, banyak lulusan SMA memiliki soft skill yang kuat berkat pengalaman di lapangan. Namun, karena HRD tidak memiliki waktu untuk menilai kompetensi secara mendalam, mereka lebih mengandalkan ijazah sebagai tolok ukur—layaknya memilih makanan di aplikasi ojek online hanya berdasarkan rating bintang tanpa mencicipi rasanya.

Akibatnya, perusahaan terkadang merekrut lulusan dengan gelar akademik panjang tetapi minim kompetensi. Sebaliknya, kandidat yang memiliki pengalaman kerja lima tahun justru tersingkir hanya karena mereka “hanya” lulusan SMA atau diploma.

0 Komentar