SUKABUMI,SUKABUMI.JABAREKSPRES.COM – Fenomena maraknya pinjaman uang kepada bank keliling di Kota Sukabumi kembali merebak. Sebelumnya sempat juga viral terkait penolakan yang terjadi terhadap petugas bank keliling.
Tapi kondisi perekonomian yang sulit serta meningkatnya kebutuhan hidup sehari-hari menjadi salah satu faktor utama yang mendorong warga terpaksa mengandalkan jasa pinjaman ini. Pinjaman dari bank keliling atau yang kerap disebut warga sebagai kosipa, tetap diminati lantaran kemudahan persyaratannya dibandingkan perbankan resmi maupun lembaga keuangan yang diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Kalau harus meminjam ke bank resmi itu banyak syaratnya dan prosesnya panjang. Selain itu, harus ada bentuk jaminan jika hendak melakukan pinjaman,” ujar Nurwati (46), warga Kelurahan Kebonjati Kecamatan Cikole, kemarin (28/8).
Baca Juga:Buntut Kematian Raya, Empat OPD Dilaporkan ke Kejari SukabumiMinibus Masuk ke Jurang Sedalam 20 Meter di Jalan Cisarakan Simpenan
Prosedur yang ditawarkan bank keliling jauh lebih sederhana. Uang pinjaman bisa cair pada hari yang sama tanpa syarat administrasi rumit. Namun, Nurwati mengakui konsekuensinya adalah bunga pinjaman yang jauh lebih tinggi.
“Memang bunganya lumayan besar kalau minjam ke kosipa, tapi tidak ribet. Kita bilang mau pinjam hari ini, langsung cair,” jelasnya.
Ida (38), warga Kelurahan Nanggeleng Kecamatan Citamiang juga mengutarakan yang sama. Menurutnya, meskipun bank keliling memiliki bunga yang tinggi dalam proses pelunasannya, tapi dianggap masyarakat bisa menjadi jawaban yang cepat saat warga memiliki kendala keuangan.
“Kita sebenernya gak mau minjam ke bank keliling, tapi mereka seperti jadi solusi nyata meskipun bunganya tinggi. Kita butuh hari ini, pas bilang langsung cair. Tinggal nanti kita mikirin pembayarannya,” jelas Ida.
Praktik pinjaman bank keliling biasanya ditawarkan dengan beragam sistem pembayaran, mulai dari harian, mingguan hingga tempo bulanan. Meski begitu, bunga yang dibebankan relatif tinggi, berkisar antara 20 hingga 30 persen dalam sebulan. Angka ini jauh melampaui bunga pinjaman perbankan konvensional.
Fenomena ini memperlihatkan adanya kebutuhan masyarakat akan fasilitas pinjaman cepat yang mudah diakses, meskipun berisiko besar bagi kondisi keuangan rumah tangga. (mg5)