Ponpes Al-Fath Berangkatkan 55 Mahasantri ke Luar Negeri

Istimewa
DOKPIM/HUMAS PEMKOT SUKABUMI PELEPASAN: Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana, menghadiri acara pelepasan 55 orang mahasantri Ponpes Dzikir Al-Fath yang akan bekerja di luar negeri.
0 Komentar

GUNUNGPUYUH – Pondok Pesantren (Ponpes) Dzikir Al-Fath Sukabumi melepas 55 mahasantri yang akan diberangkatkan bekerja ke luar negeri, Jumat (17/4). Program ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia sekaligus membuka peluang kerja bagi generasi muda. Para mahasantri dijadwalkan bekerja di sejumlah negara tujuan seperti Turki, Jepang, dan Madinah.

Pimpinan Ponpes Dzikir Al-Fath, KH Fajar Laksana, mengatakan pemberangkatan tersebut merupakan yang ketiga sepanjang 2026. Hingga saat ini, total sekitar 500 santri telah diberangkatkan ke luar negeri. “Tahun ini sudah tiga kali pemberangkatan, totalnya sekitar 500 orang. Bahkan kami masih kekurangan SDM, karena job order tahun ini mencapai 3.500 orang,” ujarnya.

Dia menjelaskan, permintaan tenaga kerja tidak hanya datang dari negara tujuan utama, tetapi juga dari Albania, Slovakia, Serbia, hingga Selandia Baru. Namun, keterbatasan sumber daya manusia yang siap kerja di sektor formal masih menjadi kendala utama.Untuk mengatasi hal itu, pihak pesantren membuka kesempatan bagi masyarakat umum dengan syarat mengikuti pendidikan selama satu tahun di pesantren. “Calon pekerja migran akan mendapatkan pendidikan dan pelatihan secara gratis. Syaratnya harus mondok, berakhlak baik, tidak terlibat narkoba, dan siap dididik,” katanya.

Baca Juga:Triwulan I, Nilai Investasi Capai Rp585 MiliarProgram 12 PAS Terapkan Skema Filantropi

Selain itu, pesantren juga menerapkan sistem ekonomi berbasis sedekah. Para alumni yang telah bekerja diwajibkan menyalurkan zakat sebesar 2,5 persen dari gaji mereka. Dalam mendukung pembiayaan keberangkatan, Ponpes Dzikir Al-Fath bahkan menjaminkan aset lembaga senilai Rp13 miliar ke perbankan. “Saat ini aset kita sekitar Rp13 miliar sudah saya jaminkan ke perbankan untuk membantu anak-anak berangkat kerja ke luar negeri,” ungkap Fajar.

Terkait keamanan, ia memastikan para pekerja tetap dalam pengawasan setelah tiba di negara tujuan. Pesantren telah memiliki jaringan serta petugas di sejumlah negara, termasuk Jepang dan kawasan Timur Tengah. “Jadi tidak perlu khawatir, karena setelah tiba di negara tujuan mereka tidak dilepas begitu saja, tetapi tetap dalam pemantauan,” ucapnya. (ndi)

0 Komentar