5 Odhiv Meninggal Dunia, Di Kota Sukabumi Ditemukan 124 Kasus HIV/AIDS

Istimewa
PORTAL.SUKABUMIKOTA.GO.ID HARI AIDS: Berbagai elemen di Kota Sukabumi memperingati Hari AIDS Sedunia yang digelar di salah satu tempat wisata, belum lama ini. Penyebaran HIV/AIDS di wilayah tersebut terdata sebanyak 124 kasus sepanjang Januari-Oktober tahun ini
0 Komentar

SUKABUMI,SUKABUMI.JABAREKSPRES.COM – Sebanyak 124 orang teridentifikasi mengidap HIV/AIDS di Kota Sukabumi. Dari jumlah tersebut, lima orang di antaranya meninggal dunia.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi, Ida Halimah, menuturkan temuan kasus sebanyak itu teridentifikasi sepanjang periode Januari-Oktober tahun ini. Jumlah temuan kasusnya relatif cukup banyak.

“Hasil pendataan kami, temuan HIV/AIDS selama 10 bulan mulai Januari-Oktober di Kota Sukabumi ada 124 kasus. Terdapat lima orang meninggal dunia,” kata Ida dikutip dari laman portal.sukabumikota.go.id, belum lama ini.

Baca Juga:BJPS Ketenagakerjaan Serahkan Santunan kepada Ahli Waris Ketua PWIWarga Praperadilankan 7 Pimpinan Lembaga Negara

Namun, sebut Ida, dari 124 kasus tersebut, tak semua orang dengan HIV/AIDS (Odhiv) merupakan warga Kota Sukabumi. Hasil asesmen di lapangan, jumlah warga Kota Sukabumi yang teridentifikasi Odhiv kurang dari separuhnya.

“Warga Kota Sukabumi yang terindentifikasi Odhiv hanya 43 orang. Sisanya terdata warga luar daerah berdasarkan identitas kependudukan. Kemungkinan, warga luar daerah itu sedang menjalani perawatan di Kota Sukabumi. Tapi tetap kita catatkan,” ungkapnya.

Satu di antara upaya yang dilakukan pemerintah daerah yaitu munculnya kasus baru HIV/AIDS. Sekaligus menangani dengan optimal sejumlah kasus yang berhasil diidentifikasi. “Penanganan HIV/AIDS perlu melibatkan berbagai pemangku kepentingan seperti komunitas. Penanganannya tidak bisa diselesaikan petugas kesehatan saja. Kami libatkan teman-teman komunitas peduli HIV/AIDS,” pungkasnya.

Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana, menyatakan pemerintah akan memperkuat pelaksanaan strategi Suluh, Temukan, Obati, dan Pertahankan atau yang dikenal dengan STOP dalam penanggulangan HIV/Aids. Strategi ini mengajak semua pihak untuk memperkuat edukasi dan komunikasi, dengan salah satu tujuannya adalah perubahan perilaku dan menghilangkan stigma serta diskriminasi terhadap Odhiv.

“Intinya adalah bagaimana tetap mensosialisasikan mengenai HIV/Aids kepada masyarakat, memperkuat narasi dengan sasarannya adalah menghindarkan diskriminasi kepada Odhiv. Karena stigmanya itu masih menular. Stigmanya masih negatif,” ujarnya..

Bobby mengajak seluruh masyarakat untuk terus membangun solidaritas dan menciptakan lingkungan yang inklusif serta saling mendukung. Ia juga mengatakan bahwa pemerintah akan terus berupaya untuk menekan penyebaran HIV/AIDS. (ndi)

0 Komentar