SUKABUMI — Pemerintah Desa Perbawati Kecamatan Sukabumi terus memacu penguatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan sektor pertanian berbasis komoditas unggulan. Kopi, padi, sayuran, dan pisang menjadi fokus utama yang kini dipetakan dan dikembangkan lebih serius sebagai sumber pertumbuhan ekonomi desa.
Upaya tersebut merupakan bagian dari strategi jangka menengah desa dalam memaksimalkan potensi alam yang selama ini menjadi tumpuan hidup warga. Selain dikenal memiliki lahan pertanian yang subur, Desa Perbawati juga berada di jalur wisata Pondok Halimun, yang dinilai berpeluang besar menopang pengembangan ekonomi lokal berbasis pertanian dan produk olahan.
Kaur Perencanaan Desa Perbawati, Asep Amir Hamzah, mengatakan pengembangan empat komoditas tersebut dilakukan karena dinilai paling menonjol, melimpah, serta telah lama menjadi aktivitas pertanian utama masyarakat.
Baca Juga:Upaya Mengendalikan Laju Inflasi, Wakil Wali Kota Hadiri Pasamoan Agung di KuninganRestoe Boemi Edukasi Pemilihan Sampah
“Pertanian di Perbawati punya peluang besar untuk dikembangkan. Untuk sementara, kami fokus pada kopi, padi, pisang, dan sayuran karena itu yang paling kuat dan sudah menjadi aktivitas warga sejak lama,” ujar Asep, kemarin (5/2).
Dari sejumlah komoditas tersebut, kopi dan padi menjadi sektor yang lebih dulu masuk tahap penguatan produk. Pengembangannya bahkan telah melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), sehingga tidak berhenti pada produksi bahan mentah semata. Asep menjelaskan, untuk komoditas kopi, pemerintah desa telah menjalin kerja sama dengan UMKM Baru Halimun. Kolaborasi tersebut melahirkan produk olahan kopi khas desa yang diberi nama Kopi Perbawati.
“Kami sudah bekerja sama dengan UMKM Baru Halimun. Dari situ lahir produk Kopi Perbawati yang bahan bakunya berasal dari petani lokal,” katanya.
Kopi hasil kebun warga tersebut diolah menjadi biji kopi siap seduh, kemudian dipasarkan ke sejumlah kedai kopi di wilayah Sukabumi. Hingga saat ini, pemasaran masih difokuskan pada pasar lokal karena permintaannya dinilai cukup tinggi.
“Kami fokus pada pengolahan dan kualitas. Kopi dari petani kami beli, lalu kami olah menjadi biji kopi siap pakai untuk kedai-kedai. Pasarnya masih lokal karena kebutuhan di Sukabumi juga tinggi,” ungkapnya.
