JL R SYAMSUDIN – Jajaran Kementerian Lingkungan Hidup menyambangi Kota Sukabumi, kemarin (11/3). Mereka mengevaluasi penguatan pengelolaan lingkungan serta penanganan sampah di wilayah tersebut.
Pertemuan ini membahas penyusunan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) terkait pengelolaan lingkungan dan sampah, sekaligus menjadi ruang diskusi untuk melihat berbagai upaya yang telah dilakukan di Kota Sukabumi dalam menangani persoalan sampah.
Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana menyampaikan, Pemerintah Kota Sukabumi berkomitmen memperkuat pengelolaan sampah dengan pendekatan dari hulu hingga hilir. Dari sisi hulu, masyarakat didorong untuk mulai memilah sampah sejak dari rumah, khususnya sampah non-organik yang dapat disalurkan melalui bank sampah.
Baca Juga:Pembangunan Perumahan di Cibeureum tak BerizinWaspadai Penyebaran Campak! Kurun Tiga Bulan Terjadi 23 Kasus
Selain itu, Pemerintah Kota Sukabumi juga menggagas inovasi Sipaling Berseri sebagai upaya mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah sejak dari hulu. Program ini menekankan keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah di lingkungannya masing-masing, termasuk melalui kebiasaan memilah sampah dari rumah.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Sukabumi juga menyiapkan sayembara inovasi pengelolaan sampah di tingkat kelurahan. Dari 33 kelurahan yang ada di Kota Sukabumi, nantinya akan dipilih tiga konsep terbaik yang dinilai mampu menghadirkan solusi pengelolaan sampah di wilayahnya. Kelurahan dengan konsep terbaik akan mendapatkan dukungan berupa mesin pencacah plastik.
Sebagai upaya mengurangi sampah organik, masyarakat juga didorong untuk membuat lubang biopori di setiap rumah. Langkah ini diharapkan mampu membantu mengurangi volume sampah organik sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan.
Di sisi hilir, pengelolaan sampah diarahkan agar dapat diselesaikan di TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle) sehingga volume sampah yang harus dibuang ke luar daerah dapat diminimalkan. Pemerintah juga tengah membenahi sistem retribusi sampah agar lebih tertata dan berkelanjutan.
Bobby berharap sektor usaha seperti hotel dan restoran ke depan dapat mengelola sampah organiknya secara mandiri sebagai bagian dari tanggung jawab terhadap lingkungan.
Sementara itu, Ketua Restoe Boemi, Kia Florita, menyampaikan bahwa komunitas Restoe Boemi aktif melakukan edukasi kepada masyarakat terkait pengelolaan sampah, baik melalui kegiatan di lapangan maupun melalui media sosial.
