PALABUHANRATU – Jumlah rumah tidak layak huni (rutilahu) di Kabupaten Sukabumi terdata sebanyak 49 ribu unit. Pemerintah daerah pun terus berupaya bisa menuntaskan perbaikan rutilahu di tengah kondisi keuangan yang relatif cukup minim.
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kabupaten Sukabumi, Sendi Apriadi, mengatakan jumlah rutilahu sebanyak itu tidak mungkin bisa diintervensi pemerintah daerah secara mandiri. Maka itu, Pemkab Sukabumi kerap mengajukan bantuan ke pemerintah pusat maupun provinsi.
“Alokasi anggaran untuk pembangunan rutilahu yang ada di dinas sangat terbatas. Bagaimana supaya jumlah rutilahu di Kabupaten Sukabumi bisa berkurang dalam setiap tahun, ya salah satunya diintervensi pemerintah pusat dan provinsi,” ungkap Sendi.
Baca Juga:Curug Luhur Cikurutug di Sukabumi Kembali Ramai Dikunjungi WisatawanRatusan ASN Pemkab Sukabumi Ikuti Lari Santai Lima Km Road To Run
Sendi menyebut, kurun 2019-2025 baru terbangun 25.000 unit dari total 49 ribu unit rutilahu. Biaya pembangunan tersebut bantuan dari pemerintah pusat dan provinsi, sebagian dialokasikan oleh pemerintah daerah. Rata-rata kondisi rumah warga yang dibangun pemerintah karena sudah hancur dan tak bisa dihuni lagi.
“Siapapun boleh menyumbang, baik pengusaha maupun dermawan dalam upaya pengentasan rutilahu di Kabupaten Sukabumi. Kalau hanya mengandalkan anggaran pemerintah daerah, tidak mungkin cukup. Karena biaya pembangunan untuk satu unit saja memerlukan dana sebesar Rp15-Rp25 juta, itu pun rumah sederhana,” tandasnya.
Kolaborasi
Dinas Perkim berkolaborasi dengan pihak swasta merenovasi rutilahu milik nenek Ningrum di Kampung Ciheulang Tonggoh, Kecamatan Cibadak. Rehabilitasi rutilahu itu merupakan bentuk komitmen nyata pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas hunian masyarakat.
Sendi mengatakan, pembangunan rumah milik nenek Ningrum itu lantaran kondisinya sudah tidak layak huni. Sehingga, pembangunannya diprioritaskan karena khawatir terjadi sesuatu atau ambruk saat penghuni sedang berada di dalam rumah.
“Memang kondisi rumah nenek ini sangat memprihatinkan. Kondisinya hancur dan nyaris ambruk. Kami berkolaborasi dengan pihak swasta berinisiatif membangun rumah nenek Ningrum. Pengerjaannya dilakukan secara bergotong royong dan swadaya masyarakat,” pungkasnya. (mg5)
