Santriwati Assallam Diterima di Universitas Al-Azhar Mesir

Istimewa
SOFWAN ZULFIKAR/SUKABUMI EKSPRES SYUKURAN: Wakil Bupati Sukabumi, Andreas, menghadiri syukuran 132 wisuda santri angkatan ke-26 Pondok Modern Assalam Putri, Sabtu (13/6).
0 Komentar

SUKABUMI – Sebanyak 16 santriwati Pondok Pesantren Modern Assalam Putri Desa Sukaharja Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi lolos seleksi dan diterima di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Keberhasilan tersebut menjadi pencapaian istimewa mengingat Universitas Al-Azhar merupakan salah satu perguruan tinggi Islam paling bergengsi di dunia dan menjadi tujuan banyak pelajar dari berbagai negara.

Dari total 132 santriwati yang diwisuda tahun ini, 16 di antaranya mampu menembus seleksi kampus yang dikenal sebagai kiblat pendidikan Islam internasional tersebut.

Direktur Tarbiyatul Muallimin Al-Islamiyyah (TMI) Pondok Modern Assalam, A Ramdan Kodrat Permana mengatakan, capaian tersebut menjadi kebanggaan sekaligus bukti kualitas pendidikan yang diterapkan di lingkungan pesantren. “Alhamdulillah, kelulusan tahun ini diikuti dengan prestasi akademik. Sebanyak 16 santri diterima di Universitas Al-Azhar Kairo tahun 2026,” ujar Ramdan kepada wartawan di sela kegiatan Syukuran 132 Wisuda Santri Angkatan ke-26 Pondok Modern Assalam Putri, Sabtu (13/6).

Baca Juga:Salurkan Bantuan Telur untuk KRS, Kelurahan Cikondang Punya Inovasi Bernama Sejati WanciPenebaran Bibit Ikan Peringati Hari Lahir Bung Karno, DPC dan PAC se-Dapil 4 Kabupaten Sukabumi

Keberhasilan para santriwati diterima di Al-Azhar menjadi motivasi bagi generasi berikutnya untuk terus meningkatkan kualitas belajar dan penguasaan ilmu agama maupun akademik. Selain itu, keberhasilan tersebut menunjukkan lulusan pesantren mampu bersaing di tingkat global.

Ramdan menjelaskan, berbeda dengan mayoritas lulusan Assalam yang diwajibkan menjalani masa pengabdian selama satu tahun sebelum melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, para santriwati yang diterima di Al-Azhar mendapat pengecualian. Mereka akan langsung berangkat ke Mesir untuk menempuh pendidikan tinggi, sementara kewajiban pengabdian akan dilaksanakan setelah menyelesaikan studi.

“Kalau santri kami lulus, biasanya tidak langsung kuliah, tetapi mengabdi selama satu tahun di tempat-tempat yang telah ditentukan. Ada yang mengabdi di Assalam dan ada juga yang ditempatkan di luar. Khusus yang melanjutkan ke Mesir, mereka langsung kuliah terlebih dahulu, sedangkan masa pengabdiannya dilakukan setelahnya,” jelasnya.

Ramdan menyebut para mahasiswa yang diterima di Al-Azhar memperoleh fasilitas pembebasan biaya kuliah. Namun demikian, biaya keberangkatan dan kebutuhan hidup selama menempuh pendidikan di Mesir tetap menjadi tanggung jawab masing-masing mahasiswa. “Di Al-Azhar biaya pendidikannya gratis. Jadi yang menjadi tanggungan mahasiswa adalah biaya keberangkatan dan kebutuhan lainnya,” katanya. (mg5)

0 Komentar