SUKABUMI – Kekeringan mulai melanda wilayah Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Berdasarkan data, ada sebanyak 315 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak kekeringan tersebut. Mereka tersebar di Kelurahan Cibadak dan Desa Sekarwangi. Diantaranya, sebanyak 150 KK di RW21 Kelurahan Cibadak, lalu sebanyak 125 KK di RT02/RW 01 di Desa Sekarwangi dan sebanyak 40 KK di RT 03/RW 01 Kelurahan Sekarwangi.
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, Ratusant warga terpaksa harus rela mengantri untuk mendapatnya air bersih yang disumbang Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Sukabumi, pada Kamis (2/7/2026).
Di bawah terik matahari yang menyengat, puluhan warga bergegas mendekati kendaraan berkapasitas 5.000 liter itu. Mereka membawa galon, ember, jeriken, hingga wadah seadanya. Satu per satu antrean mulai terbentuk, menunggu selang besar mengalirkan air bersih yang sudah tiga pekan terakhir menjadi barang paling berharga.
Baca Juga:Polres Pusatkan Upacara HUT Bhayangkara di Lapang Cangehgar PalabuhanratuWarga Kampung Cicohag Gotong Royong Perbaiki Jalan Menuju TPU Secara Swadaya
Salah seorang warga, Imas mengatakan sudah lebih dari tiga minggu keluarganya kesulitan mendapatkan air bersih.
Menurutnya, kekeringan terjadi karena saluran irigasi yang menjadi sumber resapan sumur warga sedang diperbaiki, ditambah adanya bagian saluran yang longsor. “Kekeringan sudah lebih dari tiga minggu. Air irigasi sedang diperbaiki, salurannya juga ada yang longsor. Air bantuan ini kami masukkan ke sumur resapan untuk mandi dan mencuci piring. Alhamdulillah sudah tiga kali mendapat bantuan dan sangat terbantu,” ujarnya.
Sehari-hari, bantuan air itu harus dibagi bersama keluarga besarnya. “Kemarin saya cuma kebagian lima galon, itu juga dipakai bersama keluarga mertua,” katanya.
Ketua RW 21 Kelurahan Cibadak, Ucup, krisis air yang dialami warganya bukan semata akibat kemarau. Selama ini masyarakat mengandalkan sumur resapan yang bersumber dari aliran Sungai Cimahi. Namun, proyek perbaikan jaringan irigasi di bagian hulu membuat aliran air dihentikan sementara sehingga sumur-sumur warga ikut mengering.
“Sudah sekitar tiga minggu. Warga di sini mengandalkan air resapan Sungai Cimahi, bukan sumur bor. Karena irigasi sedang diperbaiki, sumur-sumur ikut kering,” jelasnya.
Dari sekitar 430 kepala keluarga yang tinggal di wilayahnya, sekitar 150 KK terdampak langsung. Tak hanya kebutuhan rumah tangga, kekeringan juga mulai mengancam mata pencaharian warga. “Tanaman warga ikut terdampak. Kebun dan sawah yang membutuhkan air mulai kesulitan karena pasokan air tidak ada,” katanya.
