Hari Perempuan Internasional, Sekjen PBB: Kesetaraan Gender Bisa Dicapai 300 Tahun Lagi

Pidato Jelang Hari Perempuan Internasional
Antonio Guterress saat berpidato di Qatar. (Foto: Karim Jafar/GettyImages)
0 Komentar

SUKABUMI EKSPRES – Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret, diperingati oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres dengan memberikan pidato di Qatar.

Sekjen PBB tersebut berpidato dihadapan anggota UN Women, mengatakan bahwa kesetaraan gender akan tercapai 300 tahun lagi, menurut estimasi dari UN Women, organisasi yang didirikan khusus untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

Banyaknya kasus-kasus seperti kematian ibu muda, perempuan yang dipaksa menikah di usia muda, perempuan korban penculikan dan kekerasan adalah bukti nyata mengapa kesetaraan gender masih sangatlah jauh.

Baca Juga:Heboh! Kerusakan Lingkungan Akibat Event Trail di Ranca UpasBruno Fernandes Dinilai Tidak Pantas Menjadi Kapten Manchester United

“Hak-hak perempuan dirampas, diancam dan dilanggar, ini terjadi di seluruh dunia”. Guterres juga menyebutkan beberapa negara termasuk Afghanistan dimana keberadaan perempuan benar-benar dihapuskan dari kehidupan sehari-hari.

Pada hari senin lalu, wanita-wanita muda Afghanistan berkumpul di Universitas Kabul, untuk melakukan protes.  Mereka memprotes kebijakan Taliban yang memblokir akses pendidikan kepada perempuan. Menurut PBB dalam laporan terbarunya, larangan atau pemblokiran akses pendidikan ini merupakan salah satu kejahatan terhadap kemanusiaan.

Laporan tersebut disampaikan kepada Dewan Hak Asasi Manusia di Jenewa pada hari Senin lalu. Dalam laporan itu juga mencatatkan angka kenaikan pernikahan paksa dan pernikahan dibawah umur. Selain itu, larangan-larangan yang membatasi pergerakkan perempuan untuk mengakses ruang publik seperti taman dan pusat kebugaran (gym) juga menjadi bahasan. Hal-hal tersebut membuat kehidupan perempuan di Afghanistan menjadi sangat sulit.

Guterres juga menyebutkan bahwa pihaknya telah mengunjungi Afghanistan menemui pihak Taliban untuk memberi tahu bahwa PBB akan terus memperjuangkan hak-hak perempuan di sana.

“Krisis dan konflik berdampak buruk, khususnya bagi perempuan,” ucap Guterres. Sebagai contoh, perang yang terjadi di Ukraina menyebabkan banyaknya kasus pelecehan dan pemerkosaan terhadap perempuan Ukraina.

Untuk dapat mencapai kestaraan gender diperlukan kerjasama dan asksi secara langsung, tambah Guterres. Dimulai dari pendidikan, pemasukan dan penyaluran pekerjaan untuk perempuan. Poin-poin tersebut sangat penting untuk segera dilakukan, terutama di negara-negara berkembang. Guterres berharap negara berkembang untuk lebih melibatkan perempuan dalam bidang sains dan teknologi.

0 Komentar