Lebih lanjut, Agus menjelaskan bahwa sumber pendanaan pembangunan rumah di Warungkiara berasal dari hasil panen program ketahanan pangan yang sebelumnya dilaksanakan jajaran pemasyarakatan. Dana tersebut awalnya direncanakan untuk membantu penyediaan sarana air bersih di sejumlah wilayah yang membutuhkan.
Namun karena masih terdapat sisa anggaran, dana tersebut kemudian dialihkan untuk program bedah rumah bagi masyarakat yang membutuhkan.
Dalam pelaksanaannya, warga binaan juga dilibatkan dalam proses pembangunan. Selain memproduksi material bangunan, mereka turut membantu pekerjaan konstruksi bersama para tukang dengan tetap mendapatkan hak berupa premi kerja.
Baca Juga:Wali Kota Sukabumi : Buah Hasil dari Kerja Keras, Kedisiplinan dan Integritas Seluruh Aparatur Pemkot SukabumiKemnaker Gandeng Tiga Kampus di Bandung untuk Pengembangan SDM, Riset, dan Pengabdian Masyarakat
Pada kesempatan tersebut, Agus juga menyoroti pentingnya pendekatan kemanusiaan dalam pembinaan warga binaan pemasyarakatan.
“Mereka juga manusia. Warga binaan pemasyarakatan harus dimanusiakan. Kalau mereka diperlakukan sebagai manusia dan diberikan pelayanan yang baik, saya rasa mereka juga akan menerima dan menjalani proses pembinaan dengan baik,” tegasnya.
Program bedah rumah dan renovasi rumah ibadah di Warungkiara ini diharapkan menjadi model kolaborasi antara lembaga pemasyarakatan, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan warga sekaligus mendukung proses pembinaan warga binaan yang lebih produktif. (mg3)
