SUKABUMI – Kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Sukabumi terus meluas. Kurun sebulan terakhir, setidaknya terjadi 63 kali kejadian.
Manager Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, menuturkan potensi karhutla relatif masih cukup tinggi mengingat kemarau panjang ekstrem masih terjadi sampai saat ini. Terlebih, sebagian besar wilayah Kabupaten Sukabumi yang terbagi menjadi 47 kecamatan merupakan kawasan hutan.
“Berdasarkan hasil rekapitulasi, sebulan terakhir terjadi hampir 63 kali kebakaran hutan dan lahan,” kata Daeng, kemarin (9/9).
Baca Juga:DPRD Sukabumi Minta Tambahan Anggaran di Perubahan APBD 2026Sedang Asyik Nongkrong, Dua Pemuda di Cibadak jadi Korban Pembacokan
Berdasarkan data, titik karhutla tersebar di 27 kecamatan atau hampir lebih dari jumlah wilayah di Kabupaten Sukabumi. Wilayahnya meliputi Kecamatan Gunungguruh, Ciemas, Jampangtengah, Simpenan, Gegerbitung, Cikakak, Cikidang, Cibadak, Warungkiara, Lengkong, Bojonggenteng, Sukalarang, Pabuaran, Kebonpedes, Cimanggu, Kadudampit, Parakansalak, Ciambar, Nyalindung, Kabandungan, Cireunghas, Purabaya, Bantargadung, Cidahu, Cisaat, Cidadap, dan Kalapanunggal. “Kami masih memantau perkembangan di lapangan. Kalau melihat kondisinya, masih berpotensi terjadi karhutla,” sebut Daeng.
Penyebab kebakaran mayoritas akibat peningkatan suhu ekstrem yang mengakibatkan terbakarnya vegetasi. Selain itu, penyebab lainnya karena kelalaian manusia. “Ada yang bakar sampah sembarangan. Bahkan ada yang dipicu membuang puntung rokok hingga membakar vegetasi yang kering,” imbuhnya.
Selain karhutla, selama kemarau panjang ekstrem terjadi 5 kali kekeringan atau krisis air bersih. Di tengah kondisi kekeringan, terjadi juga bencana hidrometeorologi berupa cuaca ekstrem sebanyak 9 kejadian dan gempa bumi 1 kali.
“Kami siap siaga menghadapi berbagai ancaman potensi bencana. Termasuk bersinergi dengan P2BK (petugas penanggulangan bencana kecamatan) di masing-masing kecamatan serta unsur terkait lainnya,” pungkas Daeng. (mg5)
