BANTARGADUNG – Harapan warga Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, untuk menjalankan ibadah Ramadan dengan tenang di rumah sendiri pupus sudah.
Fenomena pergerakan tanah yang merayap bak “monster” dalam diam, kini memaksa ratusan warga mengungsi. Bukan karena ledakan atau bencana tiba-tiba, melainkan karena bumi yang mereka pijak perlahan membelah, menciptakan jurang-jurang retakan yang mengancam nyawa.
Hingga Senin (2/3), suasana di lokasi terdampak tampak mencekam. Berdasarkan data yang dihimpun, sedikitnya 104 Kepala Keluarga (KK) dengan total 324 jiwa harus angkat kaki dari kediaman mereka. Rumah-rumah yang dibangun dengan cucuran keringat bertahun-tahun, kini hanya menyisakan dinding yang retak dan lantai yang terangkat, tak lagi aman untuk dihuni.
Baca Juga:Finalis Puteri Indonesia Terkesan Batik SukabumiDPRD: Waspadai Lonjakan Wisatawan Selama Libur Lebaran
Kepala Desa Bantargadung, Uus Amrullah, mengungkapkan bahwa gejala alam ini sebenarnya sudah mulai memberikan “sinyal” sejak awal Ramadan. Namun, saat itu warga masih mencoba bertahan, berharap retakan tersebut hanyalah pergeseran kecil.
“Awalnya itu terlihat biasa saja, seperti retakan rambut. Tapi seiring berjalannya waktu, dalam lima hari terakhir, eskalasinya meningkat drastis. Setiap hari kami pantau, retakannya terus bertambah lebar dan dalam,” ujar Uus kepada sukabumizone.com, Senin (2/3).
Uus menambahkan dinamika tanah di wilayah tersebut masih sangat aktif. Jika hari pertama retakan hanya beberapa meter, kini lubang lubang di dalam rumah warga mencapai ukuran yang mampu memutus struktur bangunan. ” Setiap harinya semakin meningkat, sampai sekarang tanahnya terus bergerak apalagi jika hujan turun rasa was-was warga semakin menjadi,” katanya
Pemerintah Desa tak mau ambil risiko. Mengingat potensi longsor susulan yang bisa terjadi kapan saja, instruksi pengosongan zona merah langsung dikeluarkan. Eksodus besar-besaran pun terjadi. Warga mengangkut barang-barang berharga seadanya, meninggalkan kenangan di balik pintu rumah yang kini miring.
Tercatat saat ini, 324 pengungsi tersebut berpencar demi menyambung hidup. Adanya tenda Darurat menjadi tumpuan bagi mereka yang tak punya tujuan lain. Di sini, warga harus rela berbuka dan sahur dengan fasilitas seadanya.
Selain itu, rumah Kerabat saat ini menjadi pilihan bagi mereka yang beruntung memiliki saudara di zona aman. “Semua sudah kami evakuasi. Prioritas utama adalah keselamatan nyawa. Sebagian di tenda-tenda darurat yang kami siapkan, sebagian lagi menumpang di rumah saudaranya,” jelas Uus.
