JL KENARI — Warga mengeluhkan tumpukan sampah yang belum terangkut di kawasan Jalan Kenari Kelurahan Selabatu Kota Sukabumi. Kondisi tersebut bahkan viral di media sosial lantaran menimbulkan bau menyengat yang mengganggu aktivitas masyarakat, terutama usai Idulfitri 1447 Hijriah.
Kemarin (25/3), tumpukan sampah terlihat menggunung di sejumlah titik dan belum mendapat penanganan optimal. Bau tak sedap tercium hingga ke area sekitar yang merupakan kawasan strategis dengan berbagai fasilitas publik.
Keluhan salah satunya disampaikan melalui akun media sosial Mang Wibisana. Dalam unggahannya, ia menyoroti kondisi sampah yang kian menumpuk tanpa penanganan. “Masya Allah ini sampah apakah tidak akan diangkat? Makin ke sini makin menggunung. Baunya tercium ke mana-mana,” tulisnya.
Baca Juga:Kota Sukabumi Belum Tetapkan KLB CampakPotensi Karhutla Mulai Mengintai, Pekan Lalu Terjadi Dua Kasus
Menurutnya, lokasi tumpukan sampah berada di kawasan yang cukup vital, yakni di sekitar Jalan Kenari yang dipadati aktivitas masyarakat. Di area tersebut terdapat sejumlah fasilitas seperti kafe Sono Space, Kantor Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kota Sukabumi, hingga fasilitas umum lainnya.
Selain itu, kawasan tersebut juga dikenal sebagai salah satu titik aktivitas warga dan tujuan kunjungan, seperti Kolam Renang Rengganis, area olahraga Kenari Trok, sejumlah kafe, Sekolah Yuwati Bhakti, hingga Kantor Dekranasda.
Warga menilai kondisi ini dapat merusak citra kawasan yang selama ini dikenal sebagai area publik dan wisata di Kota Sukabumi. “Kami mengingatkan kepada dinas yang berwenang di Pemkot Sukabumi, ini kawasan wisata. Sampahnya harus segera diangkat karena baunya sudah sangat menyengat dan busuk,” tambahnya.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Cecep. Ia mempertanyakan lambannya penanganan sampah di kawasan tersebut, padahal lokasi tersebut berada di lingkungan perkantoran dan pusat aktivitas masyarakat. “Mau didiamkan saja ini? Padahal ini kawasan perkantoran, kafe, wisata, bahkan ada hotel. Baunya sudah seperti bau bangkai, bukan bau sampah biasa,” ujarnya.
Menurut Cecep, kondisi ini turut berdampak pada kenyamanan pengunjung, khususnya di kafe-kafe sekitar lokasi. Ia menyebut sejumlah tamu dari luar daerah mengeluhkan bau tak sedap saat berkunjung. “Kebayang pesan makanan di kafe, tapi aromanya bercampur bau sampah. Ini sangat mengganggu dan bisa menurunkan minat pengunjung,” katanya.
