Program Sekolah Maung sendiri dirancang sebagai model pendidikan yang lebih terfokus dalam membina siswa berprestasi melalui kurikulum dan pembinaan khusus. Pemerintah Provinsi Jawa Barat berharap program ini mampu mencetak generasi unggul yang memiliki daya saing tinggi di tingkat nasional maupun global. Namun demikian, sejumlah kalangan menilai keberhasilan program tersebut tidak cukup diukur dari kemampuan mencetak siswa berprestasi semata. Pemerintah juga dituntut memastikan keberadaan sekolah unggulan tidak menimbulkan kesenjangan baru di antara satuan pendidikan yang ada.
Persoalan ini menjadi penting mengingat salah satu kritik terbesar terhadap sistem sekolah favorit pada masa lalu adalah terjadinya konsentrasi siswa berprestasi, guru terbaik, dan fasilitas pendidikan di sekolah-sekolah tertentu. Akibatnya, sekolah lain kesulitan berkembang dan kesenjangan mutu pendidikan semakin lebar. Di sisi lain, pendukung program ini berpendapat bahwa negara tetap memerlukan ruang khusus untuk mengembangkan potensi siswa berprestasi agar mampu bersaing di tingkat yang lebih tinggi. Karena itu, tantangan terbesar Pemerintah Provinsi Jawa Barat adalah menemukan titik keseimbangan antara pengembangan sekolah unggulan dan pemerataan kualitas pendidikan.
Bagi Kota Sukabumi, kehadiran Sekolah Maung di SMA Negeri 2 akan menjadi ujian awal implementasi program tersebut. Masyarakat kini menunggu apakah Sekolah Maung mampu menjadi instrumen peningkatan kualitas sumber daya manusia tanpa mengorbankan prinsip pemerataan pendidikan yang selama ini menjadi fondasi kebijakan pendidikan nasional. Pada akhirnya, perdebatan mengenai Sekolah Maung bukan sekadar soal penerimaan peserta didik baru, melainkan menyangkut arah pembangunan pendidikan Jawa Barat ke depan: apakah akan kembali pada pola kompetisi antar-sekolah unggulan atau tetap mempertahankan semangat pemerataan yang selama ini diperjuangkan melalui sistem zonasi dan domisili. (mg5)
