JL IRHANDA – Program Sekolah Manusia Unggul (Maung) yang menjadi salah satu inovasi pendidikan Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai menuai sorotan. Meski digadang-gadang sebagai wadah pembinaan siswa berprestasi dan unggul, program tersebut dinilai berpotensi menghidupkan kembali sistem sekolah favorit yang selama ini berupaya dihapus melalui kebijakan zonasi atau domisili.
Penerimaan peserta didik baru (PPDB) Sekolah Maung resmi ditutup pada 29 Mei 2026. Di Kota Sukabumi, SMA Negeri 2 Kota Sukabumi ditunjuk sebagai salah satu dari 41 sekolah di Jawa Barat yang menyelenggarakan program tersebut. Berbeda dengan PPDB reguler, proses pendaftaran Sekolah Maung berlangsung lebih awal dan hanya dibuka selama lima hari, yakni sejak 25-29 Mei 2026.
Kritik terhadap program tersebut disampaikan anggota Komisi III DPRD Kota Sukabumi dari Fraksi PKS, Danny Ramdhani. Menurutnya, konsep Sekolah Maung memiliki kemiripan dengan pola sekolah unggulan atau sekolah favorit yang pernah berkembang pada era 1990-an hingga awal 2000-an.
Baca Juga:KNPI Tegaskan Tak Terlibat Agenda 2.6.26Aksi 2.6.26 'Goyang' Wali Kota, Gelombang Protes Terhadap Kepemimpinan Ayep Zaki
Dia menilai masyarakat perlu mencermati arah kebijakan pendidikan yang kini ditempuh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, terutama setelah pemerintah pusat dan daerah selama beberapa tahun terakhir mendorong sistem zonasi sebagai instrumen pemerataan mutu pendidikan. “Dalam istilah lain, Sekolah Maung dapat dipahami sebagai sekolah elite, sekolah prestasi, atau sekolah favorit yang dulu pernah menjadi tren pada tahun 90-an hingga awal 2000-an,” ujarnya.
Danny mempertanyakan apakah kebijakan tersebut selaras dengan semangat reformasi pendidikan yang sebelumnya berusaha menghapus sekat antara sekolah unggulan dan sekolah biasa. Menurutnya, sistem zonasi lahir dengan tujuan utama menciptakan pemerataan kualitas pendidikan sehingga seluruh sekolah memiliki standar yang relatif setara. “Dulu pemerintah melakukan perubahan dari sekolah favorit menjadi sekolah zonasi atau domisili berdasarkan jarak. Harapannya semua sekolah mempunyai kualitas yang sama dan tidak ada lagi dikotomi antara sekolah elit dan sekolah biasa,” katanya.
Kekhawatiran lain yang muncul adalah kemungkinan berkurangnya kuota jalur domisili akibat hadirnya program Sekolah Maung. Sebab, alokasi kursi untuk siswa berprestasi yang masuk melalui program khusus tersebut secara otomatis akan mengurangi daya tampung jalur reguler. “Nah, dengan adanya Sekolah Maung tentunya kuota zonasi atau sekolah domisili akan semakin berkurang,” tambahnya.
