SUKABUMI – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Sukabumi terus memperkuat sinergi dengan partai politik dalam upaya meningkatkan kualitas demokrasi dan pendidikan politik masyarakat. Salah satu langkah yang dilakukan melalui kegiatan silaturahmi bersama jajaran DPC PKB Kota Sukabumi di Twisters Coffee Jalan Tangkil Kelurahan Jayamekar, beberapa waktu lalu.
Pertemuan tersebut menjadi forum diskusi antara penyelenggara pemilu dan partai politik dalam membahas berbagai tantangan demokrasi, termasuk masih tingginya pragmatisme politik di tengah masyarakat. Kedua pihak sepakat bahwa pendidikan politik harus dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Ketua DPC PKB Kota Sukabumi, Yosep Pujianto, mengatakan pendidikan politik tidak boleh hanya dilakukan menjelang pelaksanaan pemilu. Menurutnya, partai politik memiliki tanggung jawab untuk terus hadir di tengah masyarakat sebagai sarana pembelajaran politik yang sehat. “Perubahan tidak bisa dilakukan secara instan. Pendidikan politik harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika tahapan pemilu dimulai,” ujar Yosep, kemarin (25/6).
Baca Juga:Kantor Kecamatan Gunungpuyuh Direvitalisasi, Telan Biaya Rp5,4 MiliarDinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Sukabumi Apresiasi Siswa Berprestasi
Dia menilai pragmatisme politik masih menjadi persoalan serius yang harus dihadapi bersama. Oleh karena itu, upaya memperkuat demokrasi tidak dapat dibebankan hanya kepada partai politik, tetapi membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.
Menurutnya, keterlibatan penyelenggara pemilu, pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, akademisi hingga masyarakat menjadi faktor penting dalam membangun budaya politik yang lebih baik. “Jika hanya partai politik yang bergerak tentu tidak akan maksimal. Perlu keterlibatan seluruh stakeholder agar praktik-praktik pragmatisme politik dapat diminimalkan,” katanya.
Ketua KPU Kota Sukabumi, Imam Surisno, mengungkapkan KPU saat ini tidak hanya fokus pada aspek teknis penyelenggaraan pemilu, tetapi juga mulai mempersiapkan berbagai program strategis untuk memperkuat demokrasi substantif. Salah satu program yang tengah dirancang adalah Sekolah Pemilih.
Program tersebut akan menyasar berbagai kelompok masyarakat dengan pendekatan pendidikan politik yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing segmen. Menurut Imam, program itu diharapkan mampu meningkatkan literasi politik masyarakat sekaligus mendorong partisipasi politik yang lebih berkualitas pada setiap pelaksanaan pemilu.
“Kami melihat masih terdapat berbagai tantangan dalam demokrasi kita, termasuk meningkatnya pragmatisme politik. Karena itu pendidikan politik harus terus diperkuat melalui berbagai inovasi, salah satunya melalui Sekolah Pemilih,” ungkapnya.
