SUKABUMI – Pekerjaan peningkatan Jalan Prana di Kota Sukabumi terus dipercepat dengan menerapkan sistem pengerjaan secara bertahap. Metode tersebut dipilih untuk meminimalkan gangguan terhadap aktivitas masyarakat sekaligus menjaga kelancaran arus lalu lintas selama proyek berlangsung.
Pelaksana proyek dari CV Makmur Sentosa, Tanjil Darussalam, mengatakan ruas jalan yang ditangani memiliki panjang sekitar 620 meter. Pada tahap pertama, pekerjaan pengecoran difokuskan pada segmen STA 350 hingga STA 625.
Menurutnya, setelah proses pengecoran selesai, beton akan menjalani masa perawatan (curing) selama sekitar tujuh hingga sepuluh hari sebelum pekerjaan dilanjutkan ke segmen berikutnya hingga tersambung ke arah Jalan Siliwangi. “Pengerjaan dilakukan secara bertahap agar akses masyarakat tidak terlalu terganggu. Selama proses pengecoran berlangsung, ruas jalan yang menjadi lokasi pekerjaan memang harus ditutup sementara,” ujar Tanjil, Sabtu (26/7).
Baca Juga:PAD Bukukan Penerimaan 49,11 PersenBenahi Infrastruktur, Pemkot Butuh Dana Rp330 Miliar
Sebelum pengecoran struktur utama dilakukan, kontraktor terlebih dahulu mengerjakan lapisan dasar menggunakan beton FC 10 yang berfungsi sebagai lantai kerja sekaligus meratakan permukaan jalan. Pada tahap pertama, pengecoran menggunakan beton FC 25 dengan panjang sekitar 275 meter. Pelaksana optimistis pekerjaan tahap awal dapat diselesaikan dalam waktu tiga hingga empat hari, sebelum memasuki masa perawatan beton.
Setelah masa tunggu sekitar satu pekan dan kekuatan beton dinilai telah memenuhi syarat untuk dilalui kendaraan, pekerjaan akan dilanjutkan ke tahap berikutnya. Tanjil menerangkan, lapisan dasar memiliki ketebalan rata-rata lebih dari lima sentimeter untuk memastikan permukaan jalan rata serta menghilangkan gelombang maupun lubang yang sebelumnya ada.
Di atas lapisan tersebut kemudian dibangun struktur jalan menggunakan rigid beton FC 25 dengan ketebalan 20 sentimeter sesuai gambar perencanaan teknis yang disusun Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kota Sukabumi.
Menurutnya, spesifikasi tersebut telah disesuaikan dengan fungsi Jalan Prana sebagai jalan lingkungan. “Karena ini merupakan jalan lingkungan, bukan jalan nasional maupun jalan provinsi, maka desain konstruksinya disesuaikan untuk menahan beban kendaraan maksimal sekitar delapan ton,” jelasnya.
Ia menegaskan seluruh pekerjaan dilaksanakan berdasarkan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan pemerintah daerah, mulai dari mutu beton, ketebalan konstruksi hingga tahapan pelaksanaan di lapangan.
