Ketua PKK Kota Sukabumi: Ortu dan Guru Harus Ketat Dampingi Anak!

Istimewa
SOFWAN ZULFIKAR/SUKABUMI EKSPRES IMBAUAN: Ketua PKK Kota Sukabumi, Ranty Rachmatilah, mengimbau para orangtua dan guru meningkatkan pengawasan terhadap anak di tengah disrupsi teknologi.
0 Komentar

SUKABUMI – Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Sukabumi, Ranty Rachmatilah, mengingatkan pentingnya peran orangtua dan guru dalam mendampingi perkembangan remaja di tengah pesatnya kemajuan teknologi digital. Menurutnya, penggunaan teknologi yang tidak disertai pengawasan dan pemahaman yang tepat berpotensi mengurangi kemampuan berpikir kritis generasi muda, meski teknologi sejatinya bukanlah ancaman. Pesan tersebut disampaikan Ranty saat menjadi narasumber dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi peserta didik baru di SMP Negeri 16 Kota Sukabumi, kemarin (16/7).

Ranty menjelaskan bahwa masa sekolah menengah pertama merupakan fase penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan manusia. Pada usia tersebut, otak remaja mengalami perkembangan yang sangat pesat sehingga membutuhkan lingkungan keluarga dan sekolah yang mampu memahami perubahan tersebut secara tepat. “Teknologi bukan musuh, tetapi jika tidak digunakan dengan bijak, teknologi bisa mengambil sesuatu yang paling berharga, yaitu kemampuan berpikir,” ujar Ranty di hadapan para siswa.

Ia menjelaskan, perubahan sikap dan perilaku remaja pada masa transisi menuju kedewasaan sering kali dipersepsikan sebagai bentuk pembangkangan. Padahal, secara ilmiah kondisi tersebut merupakan bagian dari proses perkembangan otak yang belum sepenuhnya matang. Karena itu, menurutnya, pendekatan yang mengedepankan pemahaman psikologis, komunikasi yang baik, dan pendampingan akan jauh lebih efektif dibandingkan memberikan hukuman atau larangan semata.

Baca Juga:Kwarda Jabar Dukung Kepengurusan Kwarcab Kota SukabumiPersiapkan Diri Hadapi Evaluasi Pemdi, Diskominfo Kumpulkan Perangkat Daerah Teknis

Ranty juga menyoroti perkembangan teknologi digital yang memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam memperoleh berbagai informasi. Namun, di balik manfaat tersebut, penggunaan gawai secara berlebihan dapat menimbulkan ketergantungan yang berdampak pada menurunnya kemampuan anak dalam berpikir kritis, menganalisis persoalan, hingga menyelesaikan masalah secara mandiri.

Menurutnya, kemampuan berpikir merupakan aset yang harus dijaga karena menjadi modal utama dalam menghadapi tantangan masa depan. Oleh sebab itu, teknologi seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana belajar, berkreasi, dan mengembangkan potensi diri, bukan sekadar media hiburan yang menghabiskan waktu.

Ia menegaskan, tanggung jawab membentuk kebiasaan digital yang sehat tidak hanya berada di tangan keluarga, tetapi juga menjadi bagian dari peran sekolah dan seluruh ekosistem pendidikan. Sinergi antara orang tua, guru, dan lingkungan pendidikan dalam memahami perkembangan psikologis remaja dinilai menjadi kunci dalam membentuk karakter generasi muda yang tangguh di tengah derasnya arus transformasi digital.

0 Komentar