SUKABUMI EKSPRES – Kurnia Sandy merupakan kiper Timnas Indonesia periode 1995-1999. Pria kelahiran Semarang, 25 Agustus 1975 ini pernah menjadi pemain Indonesia pertama yang berlaga di Serie A Italia bersama Sampdoria. Lantas, bagaimana kiprah Kurnia Sandy bisa gagal menjajal kerasnya kasta teratas Liga Italia tersebut?
Dilansir dari channel Youtube Sport77 Official, Kurnia Sandy bercerita bahwa dirinya hampir saja mencicipi Serie A Italia bersama Sampdoria, namun gagal karena administrasi saat itu. Padahal dirinya saat itu bakal dipasang menjadi starter karena kiper utama Sampdoria saat itu sedang cidera. Alhasil, kiper utama Sampdoria yang saat itu cidera dipaksa untuk bermain.
Administrasi yang kurang saat itu adalah dokumen dari federasi, yaitu PSSI. Kurnia Sandy yang diburu waktu pun bertanya kepada Pak Dirwan, pengurus primavera saat itu. Namun, tak ada jawaban dari beliau karena saat itu sedang lebaran sehingga debut Kurnia Sandy gagal. Bahkan hingga hari ini, belum ada jawaban dari federasi terkait permasalahan administrasi tersebut.
Baca Juga:Tiket IBL Tokopedia All Star 2023 Sudah Bisa Kamu Beli Disini!Ternyata, Pelatih Tidak Suka 3 Hal Ini Dari Pemain Indonesia
Setelah kejadian itu, Kurnia Sandy syok dan kecewa karena tidak tahu harus kemana lagi mencari cara agar dokumen tersebut bisa tersedia. “Kamu libur dulu saja latihan selama 3 hari. Saya tahu kamu sedang stress,” ucap pelatih Sampdoria saat itu. Maka, Kurnia Sandy pun pulang ke rumah orang tua angkatnya untuk menenangkan diri. Selepas 3 hari, Kurnia Sandy pun kembali ke Sampdoria untuk berlatih.
Saat itu, Kurnia Sandy banyak mendapatkan waktu bermain di Primavera Sampdoria. Primavera saat itu merupakan wadah untuk pemain yang baru saja sembuh dari cidera agar dapat beradaptasi sehingga bisa kembali ke tim senior sesegera mungkin. Kurnia Sandy sering dipanggil untuk bermain di Primavera Sampdoria disaat mendapatkan lawan yang kuat. Selama bermain di Primavera Sampdoria, Kurnia Sandy mencatatkan rekor yang unik yaitu tak pernah mengalami kekalahan.
Dari kisah Kurnia Sandy diatas bisa kita ambil kesimpulan bahwa keinginan yang kuat dan skill tidak cukup. Bantuan dari pihak luar seperti federasi pun harus ada agar mempermudah segala urusan pemain yang bakal bermain di luar negeri nantinya, salah satunya adalah dokumen dari federasi. Semoga PSSI bisa belajar dan memperbaiki kekurangan ini. (*)
