Jembatan Rusak, Warga Gunakan Perahu Karet Seberangi Sungai

Istimewa
DOK/SUKABUMI EKSPRES PERAHU KARET: Sejumlah pelajar menyeberangi aliran sungai menggunakan perahu kareta karena jembatan gantung yang rusak.
0 Komentar

JAMPANGTENGAH – Jembatan gantung di Kampung Leuwidinding Desa Tanjungsari Kecamatan Jampangtengah yang menghubungkan Kampung Kebonjati Desa Sirnaresmi Kecamatan Gunungguruh dan Desa Parakanlima Kecamatan Cikembar Kabupaten Sukabumi terputus dampak luapan air Sungai Cimandiri. Alhasil warga dari Kampung Leuwidinding, terutama para pelajar yang hendak berangkat ke sekolah terpaksa harus menyeberangi aliran sungai.

Khusus bagi pelajar, saat menyeberangi sungai kerap menggunakan perahu karet milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi.

“Hampir setiap hari para pelajar diantar jemput menggunakan perahu karet menyeberangi sungai. Karena sekolah mereka berada di Desa Sirnaresmi Kecamatan Gunungguruh dan Desa Parakanlima Kecamatan Cikembar,” kata Kepala Desa Tanjungsari Dilah Habillah, belum lama ini.

Baca Juga:SPPG Dinilai Abaikan Perpres, Distribusi MBG Tak Merata untuk Tenaga PendidikPKK Kota Sukabumi Sosialisasikan Paaredi Perkuat Peran Keluarga

Dilah menyebut jembatan gantung di Kampung Leuwidinding memiliki panjang sekitar 48 meter dan lebar 1,20 meter. Jembatan terputus disebabkan Sungai Cimandiri meluap disertai hujan deras secara terus menerus pada akhir tahun 2025 lalu.

“Warga kami banyak yang melakukan aktivitas di luar desa, terutama anak-anak yang bersekolah di wilayah Kecamatan Gunungguruh dan Kecamatan Cikembar. Awalnya mereka memanfaatkan akses jembatan gantung sebagai sarana penyeberangan. Karena jembatan rusak, sekarang warga menggunakan perahu karet untuk menyeberangi aliran sungai,” terangnya.

Diakui Dilah jembatan gantung yang rusak merupakan akses penyeberangan satu-satunya bagi warga Desa Tanjungsari yang hendak menuju ke daerah perkotaan. Selain sarana penyeberangan untuk bepergian ke Kecamatan Gunungguruh dan Kecamatan Cikembar, jembatan ini juga kerap digunakan oleh warga Desa Wangunreja dan Desa Sukamaju Kecamatan Nyalindung.

“Sekarang warga merasa terbantu dengan adanya perahu karet. Namun risikonya sangat tinggi apabila sedang turun hujan. Saya justru memikirkan nasib dan keselamatan warga, karena khawatir terjadi sesuatu disaat menyeberang pas kondisi cuacanya sedang buruk dan air sungai deras. Itu yang saya khawatirkan,” tuturnya.

Salah satu warga Desa Tanjungsari, Popi mengaku sejak jembatan gantung rusak hampir setiap hari mengantar anaknya sekolah di wilayah Kecamatan Gunungguruh dengan menyeberangi sungai menggunakan perahu karet. Namun saat air sungai meluap, terpaksa mencari jalan alternatif yang cukup jauh.

0 Komentar