JAMPANGTENGAH – Sudah lebih dari enam bulan sejak Jembatan Gantung Leuwidinding putus diterjang banjir dan longsor pada 28 Desember 2025 lalu.
Hingga kini, ratusan warga Kampung Leuwidinding, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, masih harus mempertaruhkan keselamatan dengan menyeberangi Sungai Cimandiri menggunakan perahu karet demi menjalankan aktivitasnyabsehari-hari.Demografi
Pantauan di lokasi, setiap pagi hingga sore, warga bergantian menyeberangi sungai selebar sekitar 40 meter tersebut untuk bekerja, berdagang, mengantar anak ke sekolah, hingga membawa pasien yang membutuhkan penanganan medis. Perahu karet yang dikendalikan operator dengan sepasang dayung menjadi satu-satunya penghubung tercepat menuju Desa Parakanlima dan Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh.
Baca Juga:Persiapan Jamnas, Kwarcab Pramuka Sukabumi Gelar Training CenterTiga Hari Hilang, Pemuda Asal Ciambar Ditemukan Tewas di Sungai Cimunjul
Di balik rutinitas itu, tersimpan kecemasan yang tak pernah hilang. Saat cuaca cerah, penyeberangan memang berlangsung relatif aman. Namun ketika hujan mengguyur kawasan hulu Sungai Cimandiri, arus sungai dapat berubah deras dan membahayakan keselamatan warga yang menyeberang.
Kepala Desa Tanjungsari, Ilah Hablillah mengatakan, putusnya jembatan telah berdampak besar terhadap mobilitas masyarakat di sedikitnya delapan RT. Selama ini, jembatan tersebut merupakan jalur utama yang menghubungkan sejumlah desa di dua kecamatan. “Kalau memutar memang masih bisa, tetapi jaraknya jauh, hampir enam kilometer, dan harus melewati jalan alternatif di kawasan PT SCG. Karena itu masyarakat lebih memilih menggunakan perahu karet karena jauh lebih dekat dan cepat,” kata pria yang akrab disapa Abah Ilah ini kepada media pada, Senin (13/7/2026) lalu.
Menurutnya, akses itu sangat vital karena setiap hari digunakan oleh berbagai kalangan, mulai dari pelajar SD, SMP, hingga SMA, para karyawan pabrik, pedagang, maupun warga yang hendak berobat ke fasilitas kesehatan. “Setiap hari banyak anak sekolah yang menyeberang menggunakan perahu. Begitu juga para pekerja dan pasien yang harus diantar. Kondisi ini tentu tidak ideal dan penuh risiko,” bebernya.
Melihat kondisi tersebut, sambung Ilah, Komando Armada Republik Indonesia (Koarmada RI) TNI Angkatan Laut melalui Dinas Teritorial (Dister) memberikan bantuan berupa satu unit perahu karet lengkap dengan dua buah dayung, enam pelampung, pompa, serta perlengkapan keselamatan lainnya. “Sebelumnya, penyerangan ini menggunakan perahu karet dari BPBD namun, saat ini perahu tersebut sudah rusak sehingga menggunakan perahu karet bantuan dari TNI AL,” paparnya.
