Puluhan Keluarga Kehilangan Rumah, Tergerus Abrasi Aliran Sungai Cidadap

Istimewa
EDO SUPRIADI/SUKABUMI EKSPRES TERGERUS: Permukiman warga di Kampung Sawah Tengah Desa Cidadap Kecamatan Simpenan Kabupaten Sukabumi tergerus arus deras aliran Sungai Cidadap.
0 Komentar

SIMPENAN – Bencana di bantaran Sungai Cidadap Kecamatan Simpenan Kabupaten Sukabumi berkembang jauh lebih parah dari perkiraan awal. Kurang dari 24 jam, permukiman warga di Kampung Sawah Tengah praktis musnah setelah tergerus aliran sungai yang meluap dan mengikis daratan secara brutal.

Peristiwa yang terjadi kemarin (17/12) itu menyebabkan belasan rumah warga runtuh dan hanyut. Di lokasi hanya meninggalkan hamparan air yang sebelumnya merupakan kawasan permukiman padat.

Warga menyebut, perubahan kondisi terjadi sangat cepat dan tidak memberi ruang untuk menyelamatkan bangunan.

Baca Juga:Terapkan Manajemen Talenta Tempatkan Jabatan ASNOpadi, Upaya Kendalikan Inflasi

Tokoh masyarakat setempat, Abdul Manan, menyampaikan kondisi terkini melalui rekaman langsung dari lokasi kejadian. Ia menunjukkan bagaimana wilayah kampung yang sehari sebelumnya masih berdiri, kini telah berubah menjadi bagian dari badan sungai. “Dalam hitungan jam semua habis. Yang kemarin masih ada, sekarang sudah tidak tersisa,” ujarnya, kemarin.

Berdasarkan pendataan terakhir, dari 23 bangunan rumah di Kampung Sawah Tengah, sebanyak 16 rumah telah roboh dan terseret ke sungai. Sementara tujuh rumah lainnya berada dalam kondisi rawan dan berpotensi menyusul jika debit air kembali meningkat.

Jumlah tersebut merupakan kerusakan pada satu titik lokasi saja. Warga meyakini masih ada permukiman lain di sepanjang aliran Sungai Cidadap yang juga terdampak namun belum terdata secara menyeluruh.

Perubahan kontur sungai disebut menjadi faktor utama. Aliran air bergeser ratusan meter dari jalur semula, memakan habis tanah pemukiman hingga menyatu dengan kawasan tempat tinggal warga. “Dulu sungai itu jauh dari rumah, sekarang alirannya tepat di atas bekas permukiman,” ungkap Manan menjelaskan kondisi geografis yang berubah drastis.

Seluruh warga terdampak kini telah meninggalkan lokasi dan mengungsi di SD Negeri Kawungluwuk. Tidak ada lagi kemungkinan kembali ke rumah, karena lahan tempat berdiri bangunan sudah hilang.

Warga mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kabupaten Sukabumi agar segera mengambil langkah konkret. Mereka menegaskan bahwa kebutuhan utama saat ini bukan hanya bantuan logistik, melainkan kepastian relokasi ke tempat yang aman dan layak huni. “Kami butuh tempat hidup yang baru. Kampung kami sudah tidak ada,” ujar Manan.

0 Komentar