SUKABUMI – Di balik hiruk-pikuk aktivitas dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kelurahan Tipar Kecamatan Citamiang Kota Sukabumi, tersimpan kisah perjuangan seorang bapak tiga anak bernama Diki (49). Setelah hampir satu tahun menganggur tanpa kepastian, kini ia menggantungkan hidup dan harapan keluarganya pada dapur yang setiap hari menyiapkan ribuan porsi makanan bergizi bagi anak-anak sekolah.
Bagi Diki, dapur MBG bukan sekadar tempat bekerja. Ia adalah titik balik kehidupan. Setiap hari, dari Senin hingga Jumat, Diki datang tepat waktu. Pukul 13.00 WIB hingga sekitar 21.00 WIB, ia berjibaku dengan tumpukan ompreng (wadah makanan) yang jumlahnya mencapai sekitar 2.700 unit per hari.
“Saya bekerja di sini dari Senin sampai Jumat, mulai jam satu siang sampai sekitar jam sembilan malam. Tugas saya mencuci ompreng, kurang lebih 2.700 wadah setiap hari, dikerjakan bersama 10 orang rekan,” ujar Diki, kemarin (1/2).
Baca Juga:Wali Kota Sukabumi Geram, Perbaikan Ruas Jalan Merbabu TerhambatRibuan Kader NU Berencana Hadiri Harlah Satu Abad di Palabuhanratu
Rutinitas tersebut ia jalani dengan penuh kesabaran. Pekerjaan yang bagi sebagian orang mungkin dianggap berat, justru menjadi berkah besar baginya. Sebab, sebelum bergabung dengan dapur MBG, Diki sempat merasakan masa sulit sebagai pengangguran hampir setahun penuh.
Sebagai kepala keluarga, tekanan ekonomi menjadi beban yang terus menghantui. Diki harus menafkahi seorang istri dan tiga anak yang masih mengenyam pendidikan. Ketika pekerjaan sulit didapat, kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah kerap menjadi kecemasan sehari-hari. “Sekarang alhamdulillah ada penghasilan tetap. Saya punya istri dan tiga anak, semuanya masih sekolah. Dengan adanya MBG ini, kebutuhan keluarga sangat terbantu,” tuturnya.
Tak hanya mendapatkan pekerjaan, Diki juga merasakan manfaat lain dari program tersebut. Anak-anaknya menjadi penerima langsung Makan Bergizi Gratis di sekolah. Bagi Diki, hal itu memberikan ketenangan tersendiri. “Anak dapat makan bergizi, orang tuanya dapat pekerjaan. Jadi manfaatnya benar-benar kami rasakan,” katanya.
Diki berharap program MBG dapat terus berlanjut dan diperkuat. Menurutnya, program ini bukan hanya mencerdaskan anak bangsa sejak dini melalui asupan gizi, tetapi juga menjadi penyambung hidup bagi masyarakat kecil yang membutuhkan pekerjaan.
Ketuas Satgas MBG Kota Sukabumi, Andri Setiawan, menyebut dapur MBG Citamiang Tipar sebagai contoh ideal dalam penyerapan tenaga kerja lokal. “Di SPPG Citamiang Tipar ini, seluruh pekerja merupakan warga sekitar. Total ada 47 orang dan semuanya berasal dari lingkungan sekitar dapur,” jelas Andri.
