LENGKONG – Masyarakat Kecamatan Lengkong dan Pajampangan melakukan aksi blokade truk bertonase besar atau over dimension overload (ODOL) di ruas jalan provinsi Jampangtengah–Kiaradua, pada Selasa malam (28/4/2026).
Sejak malam hari, puluhan warga berkumpul di titik-titik kerusakan jalan. Mereka menghadang setiap truk besar yang melintas, memaksa kendaraan untuk berhenti dan memutar balik arah. Sorotan lampu kendaraan, teriakan warga, hingga bunyi klakson yang bersahutan menambah ketegangan di lokasi.
Beberapa sopir truk sempat berupaya melintas, namun warga dengan tegas menghadang. Adu argumen tak terhindarkan, meski situasi masih dapat dikendalikan dan tak sampai terjadi bentrokan fisik. Warga tetap bersikeras meminta seluruh kendaraan bertonase besar dialihkan ke jalur nasional Kiaradua–Bagbagan.
Baca Juga:Di Balik Jalan Rusak, Warga Kecewa ESDM Jabar Absen dalam AudiensiHari OTDA XXX, Asep Japar : Momentum Perkuat Komitmen Nyata Bagi Masyarakat
Aksi ini merupakan bentuk protes atas kondisi jalan yang rusak parah, terutama di wilayah Kecamatan Lengkong hingga perbatasan Kecamatan Simpenan sepanjang kurang lebih 11 kilometer. Jalan berlubang, bergelombang, dan licin saat hujan membuat pengguna jalan dihantui risiko kecelakaan.
Salah seorang warga Lengkong, Suparman, menyebut kesabaran masyarakat telah habis. Ia menegaskan, aksi ini adalah puncak kekecewaan warga terhadap lambannya penanganan infrastruktur. “Warga sekarang sudah tidak bisa menahan lagi. Kami minta truk overload putar balik dan lewat jalur nasional. Jalan di Lengkong sudah hancur, sangat membahayakan,” ujarnya.
Menurutnya, situasi di lapangan sempat memanas ketika beberapa sopir keberatan diputarbalikkan. Namun warga tetap menjaga agar aksi berlangsung tertib meski dalam tekanan emosi.
Aksi blokade juga dipicu pernyataan Dedi Mulyadi terkait penundaan perbaikan jalan tersebut. Warga menilai alasan penundaan akibat masih maraknya truk ODOL tidak diiringi dengan tindakan tegas di lapangan.
Dampak kerusakan jalan kini dirasakan luas, mulai dari terganggunya aktivitas ekonomi hingga keselamatan pengguna jalan. Pada malam hari, minimnya penerangan dan kondisi jalan yang rusak memperparah risiko kecelakaan. “Kami bukan melarang truk, tapi jangan sampai jalan rusak terus dibiarkan. Kalau dibiarkan, masyarakat yang jadi korban,” tegas Suparman. (SK)
