Saksi Hidup Sistem Pendidikan di Masa Penjajahan

Istimewa
SOFWAN ZULFIKAR/SUKABUMI EKSPRES Haji Kamal Salim
0 Komentar

SUKABUMI — Haji Kamal Salim (92) merupakan seorang saksi hidup yang pernah merasakan langsung kerasnya sistem pendidikan di masa penjajahan Belanda dan Jepang. Lahir di Padang Panjang 29 September 1933, Kamal tumbuh di tengah keterbatasan akses pendidikan yang sarat diskriminasi.

Kamal menuturkan bahwa sistem pendidikan pada masa kolonial dibangun di atas sekat sosial yang tegas. Anak-anak dari kalangan rakyat biasa hanya dapat mengenyam pendidikan dasar selama tiga tahun di Sekolah Rakyat. Setelah itu, kesempatan melanjutkan pendidikan sangat terbatas dan bergantung pada kondisi ekonomi serta akses sosial.

“Dulu itu sekolah untuk rakyat cuma tiga tahun, lalu ada sekolah sambungan dua tahun. Tapi kalau anak pegawai pemerintah, sekolahnya bisa sampai delapan tahun. Tiga tahun sekolah rakyat, lima tahun di sekolah Skakel, istilah Belanda,” ungkapnya, mengenang masa kecilnya.

Baca Juga:Hanya 18 Orang Calon Haji yang Siap BerangkatPenyaluran Bantuan Pangan masih Berlangsung, Di Kelurahan Babakan dan Sindangpalay Terdapat 2.553 KPM

Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana pendidikan menjadi alat stratifikasi sosial. Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga simbol status. Anak-anak dari keluarga pegawai pemerintah atau kalangan tertentu memperoleh akses pendidikan lebih panjang, sementara anak rakyat kebanyakan harus puas dengan pendidikan dasar yang sangat terbatas.

Di sisi lain, tekanan ekonomi turut memperparah keadaan. Kamal kecil harus membantu keluarganya berjualan kue di depan sekolah rakyat. Aktivitas itu bukan sekadar upaya bertahan hidup, tetapi juga menjadi cara sederhana untuk tetap dekat dengan dunia pendidikan yang sulit dijangkaunya.

Realitas pahit pun sempat memaksanya berhenti sekolah selama satu tahun. Dalam banyak kasus pada masa itu, kondisi serupa kerap menjadi akhir dari perjalanan pendidikan seorang anak. Namun, Kamal memilih jalan berbeda. “Setelah lulus SMP, saya sempat merantau ke Palembang setahun. Lalu kembali ke Padang dan lanjut sekolah di SMA Muhammadiyah pertama di Kota Padang,” tuturnya.

Keputusan untuk kembali melanjutkan pendidikan menjadi titik penting yang mengubah arah hidupnya. Di tengah segala keterbatasan, ia menunjukkan bahwa pendidikan tetap bisa diperjuangkan, meski harus ditempuh dengan jalan berliku.

Perjuangan itu berlanjut ketika ia memasuki usia remaja. Di saat banyak anak seusianya masih bergantung pada keluarga, Kamal justru mulai menapaki dunia kerja. Ia berhasil lolos seleksi sebagai penyiar di (RRI) Padang, sebuah pencapaian yang tidak biasa pada masa itu. “Sambil sekolah, saya kerja jadi penyiar RRI. Dari 14 pelamar, semuanya mahasiswa, saya sendiri masih SMA. Tapi akhirnya saya yang diterima,” kenangnya. (mg5)

0 Komentar